Transformasi Badan Gizi Nasional: Sudarnoyo Bangun Budaya Trust in System
Kepala Badan Gizi Nasional, Sudarnoyo, merombak budaya kerja dari "trust in person" menjadi "trust in system" agar operasional instansi lebih efisien dan transparan.

JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional, Sudarnoyo, menegaskan komitmennya untuk merombak total birokrasi dan budaya kerja di instansinya dalam keterangannya pada Minggu (4/10/2026).
Langkah strategis ini diambil guna memastikan pelayanan dan operasional lembaga bertumpu pada sistem yang kokoh, bukan sekadar bergantung pada eksistensi satu atau dua figur individu.
Sebelum dirinya menjabat, Sudarnoyo menyebut bahwa budaya yang mengakar di lingkungan Badan Gizi Nasional adalah konsep "trust in person".
Kini, ia mendorong perubahan menuju "trust in system" agar operasional tidak mandek saat terjadi rotasi personel.
"Di sini ini sebelum saya masuk, culture-nya adalah namanya trust in person. Nah kami ingin di sini Pak, kami mohon bantuan Bapak Ibu semua untuk kita bikin namanya trust in system. Jadi orangnya ganti pun sistemnya akan jalan," tegas Sudarnoyo saat memaparkan visinya membangun tata kelola institusi yang lebih kuat.
Sebagai contoh konkret dari kelemahan birokrasi lama, Sudarnoyo menyoroti proses pencairan dana operasional di unit dapur.
Alur persetujuan saat ini dinilai terlalu bertumpu pada individu tunggal di pihak pemerintah.
"Sekarang ini dapur itu untuk bisa rilis duit, itu kan ada maker, ada approver. Maker-nya adalah yayasan atau mitranya. Approver-nya adalah kepala dapur SPPG yang adalah anak buah saya," ungkapnya menjelaskan kondisi operasional di lapangan.
Ketergantungan pada satu pihak ini memunculkan risiko besar. Jika individu yang memegang posisi tersebut tidak kompeten, proses pergantian personel memakan waktu administratif yang cukup lama dan merugikan pihak pemodal.
"Kita ganti orang baru, Pak, itu proses VA-nya itu lama. Karena lama, maka yang punya dapur itu kalau ada kepala dapurnya anak buah saya itu nggak bener. Begitu nggak beres, dapur saya berhenti beroperasi," keluhnya menyoroti lambatnya transisi birokrasi.
Merespons potensi krisis tersebut, Sudarnoyo langsung menginstruksikan jajaran deputinya untuk segera membuat sistem persetujuan (approval) berlapis.
Ia tidak ingin operasional instansi krusial ini lumpuh hanya karena masalah teknis personal.
"Berarti harus ada pihak kedua sebagai approval manakala ada pergantian, kemudian tetap dapurnya bisa beroperasi. Kalau sekarang nggak bisa, Pak. Begitu dia sakit, misal pingsan gitu dapurnya pasti berhenti," paparnya memberikan peringatan tegas.
Guna mewujudkan tata kelola yang profesional, tangguh, dan berkelanjutan, Sudarnoyo berambisi meniru sistem korporat perbankan nasional seperti BNI, Bank Mandiri, BTN, BRI, dan BSI. Sistem perbankan tersebut telah terbukti beroperasi optimal tanpa terpengaruh pergantian kepemimpinan.
"Jadi saya ingin mengadopsi kan kalau di tempat Bapak kan masing-masing bank ini kan udah puluhan tahun kan sistemnya udah ada corporate culture, ada sistem. Kalau di sini belum," pungkas Sudarnoyo optimistis membawa angin perubahan di tubuh Badan Gizi Nasional.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



