Iklan
Ekonomi

Laporan BPS: Harga Beras Premium Melonjak 11 Persen Tahunan

BPS catat harga beras premium naik 11 persen year on year (YoY). Kenaikan harga pangan ini dorong inflasi dan perkuat intervensi pasar pemerintah.

Laporan BPS: Harga Beras Premium Melonjak 11 Persen Tahunan
Foto: Ilustrasi. Kenaikan harga beras (Sumber: ANTARA)

JAKARTA, Semualini.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa rata-rata harga beras jenis premium di tingkat pedagang eceran dan grosir telah mengalami kenaikan sebesar 11 persen secara tahunan (year on year/YoY). 

Laporan resmi tersebut disampaikan dalam rilis data perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi pangan di Jakarta pada awal November 2026, yang menunjukkan adanya tekanan harga pada komoditas kebutuhan pokok masyarakat.

Kenaikan harga beras premium ini menjadi salah satu penyumbang utama laju inflasi kelompok bahan makanan (volatile food) sepanjang periode berjalan. Pemerintah melalui kementerian terkait terus memantau pergerakan pasokan guna menjaga stabilitas harga di pasar domestik.

Berdasarkan hasil pemantauan harga mingguan yang dilakukan BPS di ratusan kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, tren kenaikan harga beras premium telah berlangsung secara bertahap sejak beberapa bulan terakhir. 

Tekanan harga ini dipengaruhi oleh faktor pergeseran musim panen serta penyesuaian biaya produksi di tingkat penggilingan padi.

Iklan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono mengatakan, dari sisi jenisnya, beras premium telah mengalami kenaikan 11,32% secara tahunan (yoy) dan naik 0,01% secara bulanan (mtm). Lalu beras medium juga sudah naik 5,57% secara tahunan serta naik 0,35% secara bulanan.

"Menurut kualitasnya beras premium secara bulanan naik 0,01%, secara tahunan atau yoy naik 11,32%," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Pihak BPS juga mencatat bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada kualitas premium, tetapi juga berdampak ikutan pada harga beras medium. Meskipun pemerintah telah menggelontorkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), tekanan harga di pasar bebas masih terpantau tinggi.

Faktor Pendorong Pangan Nasional

Menanggapi laporan data BPS tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas beras dipicu oleh mundurnya sebagian jadwal musim panen raya akibat anomali cuaca. Selain itu, kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turut mengerek harga jual beras di pasaran.

"Kami terus mempercepat distribusi beras SPHP ke pasar tradisional dan ritel modern untuk meredam laju kenaikan harga di tingkat konsumen," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas.

Perum Bulog juga dilibatkan secara aktif untuk menyerap hasil panen petani domestik sekaligus memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Langkah intervensi pasar ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok hingga masa panen raya berikutnya tiba.

✓ Anda sedang membaca versi lengkap (2 halaman digabung). Kembali ke tampilan per halaman
Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.