Iklan
Ekonomi

IHSG Dibayangi Keputusan The Fed dan Pelemahan Rupiah

IHSG dibayangi keputusan suku bunga The Fed dan tekanan rupiah. Simak proyeksi analis serta faktor yang memengaruhi pasar saham Indonesia.

IHSG Dibayangi Keputusan The Fed dan Pelemahan Rupiah
Foto: ilustrasi. harga IHSG (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, Semualini.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi perdagangan yang masih rentan berfluktuasi pada Selasa, 27 Oktober 2026. Investor mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan tekanan terhadap rupiah yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia.

Pada pembukaan perdagangan Selasa, IHSG melemah 15,13 poin atau 0,28 persen ke level 5.357,97. Sementara itu, indeks LQ45 turun 2,16 poin atau 0,10 persen menjadi 540,68.

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober menjadi salah satu agenda yang diperhatikan pelaku pasar. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan keputusan investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam laporan Reuters pada 20 Oktober 2026, sebanyak 94 dari 100 ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam pertemuan Oktober. Angka tersebut merupakan hasil survei ekspektasi ekonom, bukan keputusan resmi bank sentral AS.

Alex Pelle, ekonom senior AS di Mizuho Securities, menyoroti kondisi ekonomi dan inflasi sebagai faktor yang berkaitan dengan kebijakan moneter AS.

Iklan

"Kamu memiliki perekonomian yang kuat dan kamu mengalami inflasi."

Pernyataan tersebut dimuat Reuters dalam laporan mengenai perkiraan kebijakan suku bunga The Fed pada 20 Oktober 2026.

Bagi pasar saham Indonesia, perkembangan kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diperhatikan. Meski demikian, arah IHSG tidak hanya ditentukan oleh keputusan The Fed, tetapi juga kondisi ekonomi domestik dan arus modal.

Selain kebijakan The Fed, tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian dalam proyeksi pergerakan IHSG. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai ketidakpastian global, harga minyak yang masih tinggi, dan kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing sebagai faktor yang perlu dicermati.

Ratna menyampaikan kemungkinan respons kebijakan apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.