Ekonomi

Rupiah Terpuruk Menjadi Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Keuangan Dalam Negeri Tertekan

Rupiah menembus level psikologis Rp18.000/US$ pada Selasa (29/9/2026). Simak pemicu pelemahan nilai tukar dan dampaknya terhadap pasar keuangan.

Rupiah Terpuruk Menjadi Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Keuangan Dalam Negeri Tertekan
Foto: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan dalam periode mingguan. (dok. SindoNews)

Jakarta, Semualini.com - Rupiah mengalami penurunan kembali, melewati level psikologis Rp18.000 per dolar AS dalam perdagangan pasar spot pada hari Selasa.    
Penurunan nilai mata uang Indonesia di awal pekan ini dipengaruhi oleh tekanan yang terus-menerus dari sentimen global dan pergerakan imbal hasil obligasi di pasar internasional. 

Perdagangan pasar spot pada Selasa pukul 10.15 WIB menunjukkan rupiah mengalami penurunan, dengan nilai tukar saat ini di Rp18.000 per dolar AS.    
Nilai tukar rupiah yang mendekati batas tersebut menandakan bahwa tren pelemahan ini belum berakhir setelah sesi perdagangan pada hari Senin.

Melansir laporan Bloomberg Technoz, Selasa (29/9/2026), "Rupiah akhirnya menyentuh level psikologis Rp18.000/US$ di perdagangan pasar spot pada Selasa (29/9/2026) pukul 10:15 WIB."

Pengaruh Tekanan Eksternal Terhadap Pasar Obligasi

Rupiah menunjukkan pelemahan seiring dengan pergerakan banyak mata uang Asia lainnya yang juga terpengaruh oleh penguatan dolar AS. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi salah satu penyebab terjadinya gejolak di pasar surat utang domestik, yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan nilai tukar. 

Laporan Bloomberg Technoz mencatat bahwa "Kenaikan US Treasury juga menekan pasar obligasi domestik. Bahkan, surat utang pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang sempat bertahan kini mulai tertekan aksi jual dan mengalami kenaikan yield."

Sentimen eksternal diperberat oleh dinamika imbal hasil pasar keuangan global yang ketat, serta perhatian pelaku pasar terhadap arah kenaikan tingkat inflasi domestik pada periode September.

Perkiraan Pasar dan Arah Kebijakan

Di tengah penjualan besar-besaran di pasar surat berharga, fokus pasar saat ini beralih kepada tindakan yang diambil oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Peningkatan inflasi yang dipengaruhi oleh risiko iklim dan perubahan harga energi global menjadi perhatian utama bagi para analis pasar. 

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat terus memperkuat intervensi pasar guna mengatasi dampak volatilitas nilai tukar rupiah terhadap sektor riil dan daya beli masyarakat.