Kenaikan Ekspor Nikel Indonesia Capai 32,98 Persen
BPS catat ekspor nikel melesat 32,98% YoY. Kementerian ESDM terbitkan revisi RKAB nikel 2026 sebesar 290-300 juta ton. Baca selengkapnya di Semualini.com.

JAKARTA, Semualini.com — Sektor pertambangan nasional mencatatkan penguatan kinerja signifikan pada kuartal ketiga tahun ini. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta, Senin (2/11/2026), nilai pengapalan komoditas nikel beserta barang olahannya melesat 32,98 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Kinerja positif tersebut berjalan berdampingan dengan langkah pengetatan kebijakan hulu. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan seluruh dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel telah tuntas direvisi guna mengontrol volume pasokan bahan baku di pasar global.
Akselerasi devisa luar negeri dari sektor nonmigas pada periode Januari hingga September 2026 ditopang secara masif oleh aktivitas manufaktur dan pabrik pengolahan di dalam negeri.
Pemerintah mencatat kelompok komoditas turunan mineral memberikan andil terbesar terhadap struktur ekspor nasional.
“Jika dilihat menurut sektornya, naiknya ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi pada industri pengolahan yang naik 8,93%. Sektor industri ini juga jadi pendorong utama atas naiknya kinerja ekspor nonmigas dengan andil 7,15%. Untuk ekspor sektor ini, kenaikan terbesar adalah produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik dari pertanian, alumunium serta tembaga,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).
Peningkatan volume dan nilai jual produk turunan seperti feronikel serta nikel matte hasil fasilitas peleburan (smelter) domestik menjadi motor penggerak utama tingginya angka pengapalan tersebut.
Evaluasi Kuota Produksi dan Kebijakan RKAB ESDM
Di sisi hulu pertambangan, lonjakan ekspor memicu perhatian khusus dari otoritas energi agar tidak menimbulkan surplus pasokan yang berlebihan (oversupply). Kementerian ESDM mengambil langkah taktis melalui penyesuaian kuota produksi dalam dokumen perizinan badan usaha.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan seluruh RKAB nikel 2026 hasil revisi telah diterbitkan.
“Totalnya antara 290—300an juta metrik ton lah kuota produksi nikel hasil revisi RKAB” kata Tri kepada awak media di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Kamis (29/10/2026).
Kebijakan pembatasan volume ini dirancang untuk menjaga kesinambungan cadangan serta stabilitas harga komoditas logam dalam jangka panjang.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



