Ekonomi

Bank Dunia Katrol Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen, Risiko Fiskal Jadi Sorotan

Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2%. Meski demikian, lonjakan belanja pemerintah memicu peringatan terkait risiko fiskal dan defisit APBN.

Bank Dunia Katrol Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen, Risiko Fiskal Jadi Sorotan
Foto: Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2026 (Dok. Generate AI)

Tingginya porsi belanja ini terdorong oleh pengerjaan awal program MBG, percepatan pembayaran kompensasi energi, serta besarnya beban subsidi. Per 31 Agustus 2026, Kemenkeu mencatat penyaluran subsidi dan kompensasi energi telah menyerap Rp331,4 triliun atau 74,2% dari target APBN.    

Dampaknya, Bank Dunia memperkirakan defisit anggaran Indonesia berada pada level 2,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 dan 2027, lalu sedikit melandai ke 2,7% pada 2028. Sementara itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB diproyeksikan merambat naik dari 40,5% pada 2025 menjadi 41,2% pada 2028.   

Tantangan Investasi Swasta dan Produktivitas Jangka Panjang

Bank Dunia mengingatkan bahwa kebiasaan mengandalkan stimulus fiskal memiliki keterbatasan waktu dan ruang. Apabila laju belanja negara mulai bergerak moderat, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi jangka menengah akan bertumpu pada kemampuan menggaet investasi swasta.

Di sisi lain, laporan tersebut menyoroti perbedaan struktur pertumbuhan Indonesia dengan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang memperoleh dorongan besar dari ekspor sektor teknologi serta rantai pasok kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

"Indonesia belum memperoleh manfaat dari integrasi ke dalam rantai nilai yang terkait dengan AI, tetapi pertumbuhan permintaan domestiknya masih sehat," sebut laporan Bank Dunia.   

Dengan revisi positif pada proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026, pemerintah tetap dihadapkan pada tantangan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas melalui peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, dan investasi swasta.    

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.