Bank Dunia Katrol Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen, Risiko Fiskal Jadi Sorotan
Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2%. Meski demikian, lonjakan belanja pemerintah memicu peringatan terkait risiko fiskal dan defisit APBN.

Jakarta, Semualini.com - Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2%, mengalami peningkatan sebesar 0,5 poin persentase bila dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yakni 4,7%. Dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update terbitan Oktober 2026, penyesuaian ke atas ini terutama dipicu oleh dampak gejolak harga energi global yang ternyata tidak seberat perkiraan awal.
Selain itu, ekspansi ekonomi nasional ditopang oleh percepatan program prioritas pemerintah, investasi berbasis negara, penyaluran subsidi energi domestik, serta solidnya kinerja perekonomian sepanjang paruh pertama tahun ini.
Faktor Pendorong Kinerja Ekonomi dan Realisasi Anggaran Belanja
Kenaikan estimasi ini menempatkan Indonesia di antara negara-negara Asia dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
Pencapaian ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I-2026 yang mencapai 5,45%, melebihi capaian yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya 5,1%.
Menurut penilaian Bank Dunia, performa ini merupakan rata-rata pertumbuhan dua kuartal paling kuat sejak 2022, yang dipicu oleh konsumsi yang kuat dan belanja pemerintah yang tinggi pada awal tahun.
Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa realisasi belanja Kementerian dan Lembaga hingga 31 Agustus 2026 telah mencapai Rp912,4 triliun.
Rincian penggunaan anggaran menunjukkan bahwa belanja barang meningkat tajam sebesar 67,6% menjadi Rp389 triliun, belanja modal naik 14,3% menjadi Rp159,8 triliun, belanja pegawai bertambah 21,7% menjadi Rp259 triliun, dan belanja bantuan sosial mengalami pertumbuhan kecil sebesar 3,4% menjadi Rp104,5 triliun dari Rp101,1 triliun pada tahun 2025.
Alokasi anggaran khusus mencakup Rp131,3 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis, Rp21,4 triliun untuk insentif biodiesel, Rp10,1 triliun untuk dana BOS swasta, serta Rp3,3 triliun untuk program stabilisasi pangan.
Sorotan Risiko Fiskal dan Proyeksi Defisit APBN
Kendati akselerasi belanja prioritas dan subsidi efektif dalam menggerakkan aktivitas ekonomi jangka pendek, Bank Dunia menggarisbawahi bahwa kombinasi kebijakan belanja agresif ini berpotensi meningkatkan tekanan pada keseimbangan fiskal dan sektor eksternal.
"Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan melebar menjadi 1,5% dari PDB pada 2026. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas kisaran target bank sentral," kata Laporan Bank Dunia.
Kerentanan fiskal terlihat dari tingginya belanja pemerintah pada lima bulan pertama 2026 yang tumbuh hingga 34% secara tahunan (year-on-year), berbanding terbalik dengan laju pendapatan negara yang hanya tumbuh 19%. Dalam rentang lima bulan awal tersebut, penyerapan anggaran telah mencapai 36% dari pagu APBN, atau lebih tinggi 8 poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



