Iklan
Nasional

Kepala BGN Sudaryono Usulkan Edukasi Gizi dan MBG Masuk Kurikulum Sekolah

Kepala BGN Sudaryono mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan edukasi gizi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

Kepala BGN Sudaryono Usulkan Edukasi Gizi dan MBG Masuk Kurikulum Sekolah
Foto: Kepala BGN Sudaryono Usulkan Edukasi Gizi dan MBG Masuk Kurikulum Sekolah. (Sumber : Tangkapan Layar Instagram @sudaru_sudaryono).

Ringkasan Berita:

  • Kepala BGN Sudaryono mengusulkan edukasi gizi dan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dimasukkan resmi ke dalam kurikulum sekolah seperti halnya mata pelajaran Penjaskes.
  • BGN menguji coba sistem prasmanan langsung di dalam kelas-kelas sekolah dengan skema alokasi waktu khusus 1 jam serta pemorsian yang fleksibel.
  • Uji coba prasmanan MBG mencatatkan tingkat kepuasan tinggi mencapai 4,56 dari skala 5 dengan jumlah sisa makanan (food waste) yang sangat minim.

JAKARTA, semualini.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemahaman nutrisi ke dalam sistem pendidikan nasional. 

Kepala BGN, Sudaryono, mengusulkan agar edukasi gizi dijadikan sebagai bagian resmi dari kurikulum sekolah sebagaimana mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (Penjaskes).

Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya @sudaru_sudaryono pada Minggu (25/10/2026). 

Ia menekankan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada pembagian makanan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran gizi bagi para siswa.

"Jadi bagaimana memasukkan MBG atau edukasi gizi ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum yang ada di pendidikan kita," kata Kepala BGN Sudaryono.

Menurut Sudaryono, sekolah perlu menjadi wahana utama dalam membangun kesadaran gizi sejak dini. Anak-anak tidak hanya sekadar mengonsumsi makanan yang disajikan, melainkan juga memahami kandungan nutrisi dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh.

"Diajarkan kenapa orang harus makan karbo, apa pentingnya karbohidrat, kenapa orang harus makan sayur, apa pentingnya buah, vitamin, mineral, kenapa mesti protein," jelas Sudaryono merinci materi pemahaman nutrisi bagi siswa.

Iklan

Lebih lanjut, BGN telah melakukan uji coba (piloting) skema pelayanan MBG dengan sistem prasmanan. Dalam uji coba tersebut, BGN mengusulkan penyesuaian jam pelaksanaan MBG agar terintegrasi dengan jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah.

"Bagi sekolah yang pulangnya pagi, misalnya kelas SD kelas 1 kelas 2 kan pagi jam 10.00, sehingga makan MBG diberikan setelah pulang sekolah," terang Sudaryono mengenai opsi penyaluran bagi siswa kelas awal.

Sementara itu, bagi siswa yang belajar hingga siang hari, BGN mengusulkan adanya alokasi waktu khusus sekitar satu jam yang didedikasikan untuk proses makan dan pendidikan gizi.

"Untuk sekolah yang kemudian sampai siang, itu kemudian kami mengusulkan ada jam khusus untuk pendidikan gizi tadi," sebut Sudaryono menegaskan perlunya durasi makan yang memadai.

Dalam mekanisme teknisnya, Sudaryono menjelaskan bahwa sistem prasmanan tidak dilakukan terpusat di satu titik sekolah, melainkan disalurkan secara praktis langsung ke masing-masing ruang kelas guna menghindari penumpukan antrean siswa.

"Prasmanannya itu dibawa ke kelas-kelas. Jadi kalau kelasnya 30 ya dia membawa 30 porsi makanan," pungkas Sudaryono menjelaskan efisiensi distribusi MBG di sekolah.

Berdasarkan evaluasi BGN, uji coba sistem prasmanan di kelas tersebut mendapat respons sangat positif dengan tingkat kepuasan mencapai 4,56 dari skala 5. 

Selain mempercepat waktu penyajian, skema ini terbukti menekan sisa makanan (food waste) secara signifikan serta memberikan keleluasaan penambahan porsi bagi siswa yang membutuhkan.

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.