Iklan
Nasional

Perkuat Infrastruktur Digital, Danantara Bakal Resmikan Proyek Data Center dan AI

Danantara Investment Management (DIM) siap mengumumkan investasi skala besar sektor data center dan AI pada New Asia Forum (NAF) 2026 di Bali.

Perkuat Infrastruktur Digital, Danantara Bakal Resmikan Proyek Data Center dan AI
Foto: Wisma Danantara Indonesia (Sumber : Tangkapan Layar Google Street).

Ringkasan Berita:

  • Danantara Investment Management (DIM) siap meluncurkan sejumlah investasi strategis sektor infrastruktur digital, data center, dan Artificial Intelligence (AI) pada New Asia Forum (NAF) 2026 di Bali, 3–4 Desember mendatang.
  • ​Pengembangan data center skala besar di bawah Danantara wajib menerapkan prinsip Bring Your Own Energy (BYOE) serta teknologi pendinginan hemat air guna menjaga kelestarian lingkungan.
  • ​Selain sektor digital, Danantara merealisasikan diversifikasi investasi pada proyek Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL), perhotelan haji di Makkah, hingga industri protein global senilai US$ 2,5 miliar.

JAKARTA, semualini.com – Badan pengelola investasi nasional, Danantara Investment Management (DIM), bersiap menghentak panggung investasi internasional dengan mengumumkan jajaran proyek raksasa di sektor infrastruktur digital, data center, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). 

Pengumuman bernilai strategis tersebut dijadwalkan bakal diluncurkan secara resmi dalam perhelatan New Asia Forum (NAF) 2026 yang digelar di Bali pada 3–4 Desember mendatang.  

​Managing Director Investment DIM, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengungkapkan bahwa penguatan ekosistem teknologi cerdas dan pusat data berskala besar kini menjadi salah satu pilar utama untuk mendongkrak kapasitas serta daya saing ekonomi nasional di kancah global.  

​"Kami memiliki beberapa proyek, termasuk di data center, yang akan diumumkan di acara New Asia Forum. Kami berharap ini menjadi salah satu contoh masuknya investasi dalam skala besar ke Indonesia," kata Stefanus Ade Hadiwidjaja dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2025).

Meski gencar membidik peluang di sektor AI, Danantara menegaskan bahwa setiap penyertaan modal asing wajib memenuhi standar kehati-hatian (prudence). Kemitraan yang dibangun diarahkan agar tidak sekadar mengejar tingkat pengembalian finansial semata.  

​"Secara global, AI sedang berkembang pesat. Dalam setiap investasi, kami selalu prudent dan berhati-hati. Namun di sisi lain, kami juga tidak bisa tertinggal dari peluang yang sangat besar di bidang AI," tegas Stefanus.  

​Ia menambahkan bahwa dampak konkret dari investasi teknologi harus dirasakan langsung oleh industri dan tenaga kerja dalam negeri. 

"Investasi kami tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga harus menghasilkan transfer of technology, peningkatan kemampuan industri, serta pengembangan sumber daya manusia Indonesia," ujar Stefanus menjelaskan prinsip investasi Danantara.  

Iklan

​Di samping itu, memperhitungkan tingginya konsumsi daya fasilitas data center berskala raksasa, DIM menetapkan kualifikasi lingkungan yang sangat ketat. 

Investor diwajibkan memperhatikan ketahanan energi serta pasokan air publik agar tidak memicu krisis bagi masyarakat maupun kawasan industri sekitar. 

Oleh karena itu, Danantara mendorong skema Bring Your Own Energy (BYOE) serta adopsi teknologi pendingin hemat air closed loop system.  

​"Pengembangan pusat data berskala besar harus mempertimbangkan kebutuhan energi dan air agar tidak mengganggu kepentingan masyarakat maupun kebutuhan industrialisasi nasional," terang Stefanus.  

​Langkah agresif Danantara dalam menggaet modal global sejatinya tidak berhenti pada sektor teknologi digital. 

Lembaga ini juga mencatatkan progres signifikan di sektor Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali, Bekasi, dan Bogor yang telah memasuki tahap konstruksi fisik. 

Pada sektor pelayanan haji, DIM sukses merampungkan akuisisi Novotel Thakher Makkah berkapasitas 1.461 kamar serta lahan 4,4 hektare untuk pembangunan 13 menara hotel mendatang. 

Sementara untuk ketahanan pangan, Danantara mengucurkan investasi US$ 2,5 miliar bersama JBS Group untuk menguasai 25 persen saham operasional JBS di Australia dan Selandia Baru.  

​"Seluruh investasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang, memperluas penguasaan teknologi, dan meningkatkan kemampuan industri nasional," pungkas Stefanus.

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.