Sinyal Bahaya Netflix! Pengguna Makin Jarang Buka Aplikasi dan Waktu Menonton Makin Merosot
Tingkat keterlibatan pengguna Netflix dilaporkan mengalami penurunan. Pengguna kini makin jarang membuka aplikasi dan menghabiskan waktu menonton yang lebih sedikit.

Ringkasan Berita:
- Keterlibatan (engagement) pengguna Netflix menunjukkan tren penurunan, di mana pengguna semakin jarang membuka aplikasi serta durasi menonton harian per pengguna terus berkurang.
- Pimpinan Netflix mengakui bahwa pertumbuhan jumlah penonton di pasar utama seperti Amerika Serikat tidak secepat yang ditargetkan, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
- Menanggapi penurunan performa tersebut, Netflix merombak jajaran pimpinan divisi konten, memangkas jumlah karyawan, dan mengekspansi variasi tayangan ke siaran olahraga langsung serta podcast.
LOS ANGELES, semualini.com – Industri hiburan digital raksasa Netflix Inc. tengah menghadapi tantangan serius terkait penurunan tingkat keterlibatan (engagement) para penggunanya.
Laporan internal menunjukkan bahwa para pelanggan kini semakin jarang membuka aplikasi streaming film tersebut serta menghabiskan waktu menonton yang lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Penurunan ini terukur melalui metrik internal perusahaan yang dikenal sebagai Qualified Play Days (QPD), yakni tolok ukur seberapa sering pelanggan aktif berinteraksi dengan aplikasi.
Meskipun total akumulasi waktu menonton di platform sempat mencatatkan kenaikan tipis pada paruh pertama tahun ini, lonjakan tersebut murni dipicu oleh penambahan jumlah total pelanggan baru, bukan karena peningkatan durasi menonton tiap individu.
Artinya, secara rata-rata, setiap pengguna kini menonton lebih sedikit konten.
Sinyal penurunan interaksi pelanggan mulai terdeteksi sejak Netflix memperketat kebijakan pembatasan berbagi kata sandi (password sharing) pada 2022.
Pihak manajemen awal mulanya menganggap perlambatan tersebut hanya bersifat sementara akibat berkurangnya pengguna numpang pada satu akun.
Namun, tren penurunan yang berlanjut memicu kekhawatiran bahwa pelanggan mulai menganggap layanan Netflix kurang berharga atau justru mengalihkan perhatian mereka ke platform pesaing seperti YouTube.
Co-Chief Executive Officer Netflix, Ted Sarandos, membenarkan adanya stagnasi pertumbuhan penonton di kawasan Amerika Serikat dalam konferensi bersama para analis.
"Memang tidak tumbuh secepat yang seharusnya," ujar Co-Chief Executive Officer Netflix, Ted Sarandos dikutip dari bloomberg.com, Senin (26/10/20260).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dinamika penonton di kawasan AS memerlukan perhatian khusus dari manajemen.
"Atau secepat yang kami inginkan," tutur Ted Sarandos menambahkan evaluasinya mengenai laju pertumbuhan penonton.
Kendati demikian, jajaran eksekutif menegaskan bahwa kinerja operasional di luar wilayah Amerika Serikat masih berjalan secara memuaskan dengan model bisnis yang tetap solid. Dalam rapat internal bersama para karyawan, Co-CEO Netflix Greg Peters membeberkan pandangannya mengenai situasi terkini yang dihadapi raksasa hiburan tersebut.
"Ada dua hal yang bisa sama-sama benar," kata Co-CEO Netflix, Greg Peters, dalam pertemuan internal perusahaan.
Peters menjelaskan bahwa kondisi keuangan dan fundamental bisnis perusahaan sebenarnya masih berada pada jalur yang menguntungkan.
"Kami memiliki bisnis yang patut dibanggakan, terus tumbuh, dan menghasilkan keuntungan," ungkap Greg Peters.
Namun, ia secara terbuka mengakui bahwa manajemen tidak boleh berpuas diri dan harus segera mengambil langkah nyata untuk memulihkan daya tarik platform.
"Namun, pada saat yang sama, kami menyadari masih banyak yang harus dilakukan untuk mendorong pertumbuhan lebih lanjut," tegas Peters dalam kesempatan tersebut.
Data independen dari Apptopia turut memperkuat indikasi penurunan keterlibatan pengguna tersebut.
Lembaga pelacak aplikasi seluler itu mencatat bahwa proporsi pelanggan Netflix di AS yang tidak membuka aplikasi membengkak hingga 16,6 persen pada kuartal III dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dampak dari perlambatan pertumbuhan ini merembet ke kinerja finansial dan pasar saham. Harga saham Netflix tercatat terkoreksi sekitar 29 persen sepanjang tahun ini akibat kekhawatiran investor.
Perusahaan juga memangkas Proyeksi penjualan iklan tahunan sebesar US$300 juta akibat keterlambatan peluncuran sejumlah fitur produk baru serta minimnya kehadiran judul serial atau film hit baru.
Guna merespons tekanan pasar, Netflix melancarkan aksi pembenahan internal secara masif. Perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 6 persen tenaga kerjanya.
Di jajaran eksekutif, Netflix mencopot Chief Content Officer Bela Bajaria serta pimpinan divisi film Dan Lin.
Posisi kepemimpinan strategi konten kini diserahkan kepada eksekutif veteran Peter Rice guna menyegarkan kembali jajaran tayangan dan memikat kembali minat penonton global.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



