Investor Antre Masuk KEK Kendal-Batang, Lahan Industri Sudah 100 Persen Terpakai
Minat investasi di Jawa Tengah terus meningkat. Pemerintah menyebut investor masih mengantre masuk KEK Kendal dan KIT Batang karena pemanfaatan lahan telah mencapai 100 persen.

JAKARTA - Minat investor untuk masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di Jawa Tengah terus meningkat. Pemerintah menyebut sejumlah investor bahkan masih mengantre karena lahan yang tersedia di kawasan tersebut telah terpakai sepenuhnya.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan tingginya minat investor membuat pemerintah perlu menyiapkan pengembangan kawasan untuk menampung investasi baru.
“Di Kendal dan Batang itu sekarang sudah penuh. Bahkan ada yang antre untuk masuk,” kata Susiwijono.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan industri di Jawa Tengah masih memiliki daya tarik yang kuat bagi investor, terutama dari sektor manufaktur.
Lahan KEK Kendal dan KIT Batang Sudah Penuh
Susiwijono menjelaskan pemanfaatan lahan di sejumlah kawasan industri telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah mempertimbangkan perluasan kawasan.
“Kalau kita lihat, lahannya sudah 100 persen terpakai. Jadi memang harus ada pengembangan atau perluasan kawasan,” ujarnya.
Pemerintah menilai perluasan kawasan industri diperlukan agar investor yang telah menyatakan minat tetap dapat memperoleh lokasi untuk menjalankan kegiatan usahanya.
Tingginya permintaan lahan juga memperlihatkan bahwa KEK Kendal dan KIT Batang telah berkembang menjadi salah satu pusat investasi manufaktur di Jawa Tengah.
Manufaktur Jadi Penopang Ekonomi Jawa Tengah
Sektor manufaktur menjadi salah satu kekuatan utama perekonomian Jawa Tengah. Berdasarkan data pemerintah, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sekitar 33,18 persen terhadap perekonomian provinsi tersebut.
Susiwijono menilai penguatan sektor manufaktur perlu terus didorong karena memiliki keterkaitan dengan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga aktivitas ekonomi di daerah.
“Manufaktur ini menjadi salah satu sektor yang sangat penting bagi perekonomian Jawa Tengah,” katanya.
Pertumbuhan kawasan industri di Kendal dan Batang turut memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu tujuan investasi industri di Indonesia.
Realisasi Investasi Jateng Capai Rp48,54 Triliun
Realisasi investasi Jawa Tengah pada semester I 2026 tercatat mencapai Rp48,54 triliun.
Angka tersebut setara dengan sekitar 48,99 persen dari target investasi Jawa Tengah sepanjang 2026 yang mencapai Rp99,09 triliun.
Realisasi investasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp25,92 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp22,62 triliun.
Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang juga menjadi daerah dengan realisasi investasi yang cukup besar.
Kendal mencatat realisasi investasi sekitar Rp6,56 triliun, sementara Batang mencapai sekitar Rp6,11 triliun pada semester I 2026.
Investor Masih Mengantre Masuk Kawasan Industri
Besarnya realisasi investasi dan tingginya permintaan terhadap lahan industri membuat pemerintah melihat perlunya pengembangan kawasan.
Susiwijono mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan berbagai kebutuhan investasi dapat diakomodasi.
“Kita tentu berharap investasi yang sudah antre ini bisa segera direalisasikan,” ujarnya.
Selain ketersediaan lahan, pemerintah juga terus mendorong penyederhanaan proses perizinan dan penyelesaian berbagai kendala yang dapat menghambat investasi.
Pemerintah membuka ruang konsultasi bagi investor maupun pemerintah daerah apabila terdapat persoalan dalam proses investasi.
Dengan kondisi lahan yang semakin terbatas dan investor yang masih menunjukkan minat, pengembangan KEK Kendal dan KIT Batang diperkirakan menjadi salah satu agenda penting untuk menjaga momentum investasi di Jawa Tengah.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.




