Nasional

Hasil Uji Lab Nyatakan Makanan Aman, BGN Resmi Cabut Suspensi SPPG Gowa

Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mencabut suspensi SPPG Gowa Pattallassang 02. Hasil lab membuktikan makanan aman, sumber bakteri ternyata dari fasilitas cuci tangan sekolah.

Hasil Uji Lab Nyatakan Makanan Aman, BGN Resmi Cabut Suspensi SPPG Gowa
Foto: Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana. (Sumber : Tangkapan Layar Instagram @sudaru_sudaryono).

Ringkasan Berita:

  • Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi mencabut pemberhentian sementara operasional (suspensi) SPPG Gowa Pattallassang 02 setelah hasil laboratorium keluar.
  • Uji mikrobiologi membuktikan makanan program gizi aman, dan sumber bakteri pemicu gangguan pencernaan berasal dari fasilitas cuci tangan di sekolah.
  • SPPG Gowa Pattallassang 02 diizinkan untuk kembali beroperasi pada hari Senin, dengan pengawasan ketat BGN demi menjaga kualitas dan hak penerima manfaat.

GOWA — Titik terang akhirnya muncul terkait insiden dugaan keracunan makanan yang sempat menghebohkan wilayah Gowa. 

Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi telah mencabut pemberhentian sementara operasional (suspensi) terhadap Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Gowa Pattallassang 02. 

Keputusan ini diambil setelah hasil uji laboratorium secara sah menyatakan bahwa makanan yang didistribusikan terbukti aman.

Pernyataan resmi ini disampaikan langsung oleh Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana. 

Peninjauan kembali atas sanksi suspensi tersebut didasarkan pada Surat Hasil Pemeriksaan Laboratorium dengan Nomor Register 694/LABKESMAS/IX/2026.

Dalam keterangannya, Ketut Sumedana merinci bahwa sampel makanan yang diambil dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti bersih dari segala bentuk kontaminasi berbahaya yang sebelumnya dicurigai sebagai pemicu insiden pada 24 September 2026.

"Hasil pengujian mikrobiologi menyatakan bahwa seluruh sampel makanan yang diuji di laboratorium dinyatakan layak konsumsi dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya atau beracun," tegas Dr. Ketut Sumedana memberikan kepastian kepada publik, Minggu (27/09/2026).

Bukan dari Makanan, Ini Sumber Bakteri Sebenarnya

Lantas, dari mana asal muasal bakteri yang menyebabkan sejumlah anak mengalami sakit perut? Investigasi lanjutan yang dilakukan oleh tim ahli tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga pada ekosistem dan fasilitas di sekitar para siswa.

Hasil penelusuran fakta di lapangan menemukan bahwa penyebab utama kontaminasi tidak berasal dari dapur SPPG, melainkan dari kebersihan fasilitas yang digunakan oleh para siswa sebelum menyantap hidangan.

"Sumber bakteri tersebut dinyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dari tempat cuci tangan sekolah sebelum makan anak-anak," ungkap Ketut menjelaskan akar permasalahan.

Hal ini sekaligus meluruskan persepsi publik bahwa gangguan pencernaan tersebut bukan merupakan kejadian keracunan massal akibat makanan program gizi. 

Dari ribuan porsi yang dibagikan, hanya sebagian kecil siswa yang terdampak akibat faktor kebersihan fasilitas cuci tangan tersebut.

"Sehingga pada saat kejadian terdapat 11 dari total 2.660 penerima manfaat mengalami gangguan pencernaan," tambahnya.

SPPG Diizinkan Kembali Beroperasi Penuh

Menindaklanjuti temuan saintifik tersebut, Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan (Tawas) BGN bertindak cepat dengan mengeluarkan Surat Nomor 4613/D.TWS/09/2026 yang diterbitkan pada 25 September 2026. 

Surat ini memuat perihal pencabutan pemberhentian operasional sementara terhadap SPPG Gowa Pattallassang 02.

Dengan terbitnya surat izin tersebut, pihak BGN memastikan bahwa suplai gizi bagi ribuan anak di wilayah tersebut tidak akan terganggu lebih lama lagi. Unit pelayanan dipersilakan untuk kembali menyiapkan dan mendistribusikan makanan bergizi.

"Dengan demikian bahwa SPPG Gowa Pattallassang Pattallassang 02 hari ini kami nyatakan dibuka kembali dan dapat beroperasi pada hari Senin berikutnya," tutur Ketut Sumedana.

Meski suspensi telah resmi diangkat, Ketut Sumedana menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional tidak akan mengendurkan standar pengawasan.

Insiden ini dijadikan pembelajaran penting untuk meningkatkan standar operasional, baik dari sisi penyedia makanan maupun pihak sekolah penerima. 

Pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga kualitas keamanan pangan secara ketat di masa mendatang.