Bahan Baku Baterai RI Diproyeksi Naik Dua Kali Lipat 2027
FINI memproyeksikan kapasitas produksi bahan baku baterai (MHP) Indonesia melonjak dua kali lipat hingga 900 ribu ton nikel pada 2027, didorong smelter HPAL.

Ringkasan Berita:
- Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah memproyeksikan kapasitas produksi bahan baku baterai di Indonesia melonjak dua kali lipat menjadi lebih dari 900 ribu ton pada akhir 2027.
- Lonjakan ini didorong oleh sejumlah proyek smelter hidrometalurgi berteknologi HPAL yang segera memasuki tahap komisioning dan beroperasi penuh.
- Dengan kapasitas produksi mencapai 2,5 juta ton pada 2025, Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pemasok nikel terbesar di dunia dengan pangsa pasar sekitar 60 persen.
JAKARTA — Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) membawa kabar positif terkait masa depan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Kapasitas produksi bahan baku baterai di dalam negeri, khususnya dari hilirisasi nikel yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), diproyeksikan melonjak tajam hingga dua kali lipat pada akhir tahun 2027.
Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusumah, membeberkan bahwa lonjakan signifikan ini sejalan dengan masifnya pembangunan fasilitas pemurnian nikel di Tanah Air.
"Kapasitas produksi bahan baku baterai di dalam negeri akan melonjak dua kali lipat hingga melampaui 900 ribu ton nikel pada akhir 2027," kata Arif saat memberikan keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Menurut Arif, tren positif ini tidak lepas dari rampungnya sejumlah fasilitas pengolahan nikel yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan rantai pasok komponen kendaraan listrik.
"Pertumbuhan kapasitas didorong oleh sejumlah proyek smelter hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang segera menyelesaikan tahap konstruksi," jelasnya.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa fasilitas-fasilitas strategis tersebut akan segera memberikan dampak nyata bagi volume ekspor dan produksi nasional.
"Proyek-proyek HPAL itu akan memasuki tahap komisioning dan operasi penuh dalam waktu dekat," tegas Arif.
Berdasarkan catatan FINI, produksi produk hidrometalurgi yang meliputi MHP, nikel sulfat, dan kobalt sulfat pada tahun 2025 baru berada di kisaran 450 ribu ton nikel. Oleh karena itu, target di akhir 2027 menjadi capaian yang sangat dinantikan.
Arif meyakini bahwa lonjakan angka menuju lebih dari 900 ribu ton tersebut bukanlah sekadar statistik biasa. Ia menilai, "Kenaikan ini sebagai lompatan dalam rantai pasok bahan baku baterai nasional."
Sebagai informasi, teknologi HPAL dirancang untuk mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) menggunakan asam bertekanan dan suhu tinggi.
Hasil utamanya adalah MHP, yang menjadi bahan krusial untuk pembuatan katoda baterai.
Peningkatan kapasitas MHP ini menjadi penanda kuat bergesernya fokus industri nikel Indonesia dari sekadar penyuplai bahan baku baja nirkarat menuju penguasa rantai pasok kendaraan listrik masa depan.
Secara keseluruhan, kinerja industri nikel nasional pada 2025 mencatatkan angka produksi sebesar 2,5 juta ton dari total kapasitas fasilitas pemurnian sebesar 2,7 juta ton nikel.
Saat ini, mayoritas produksi memang masih didominasi oleh produk pirometalurgi seperti nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), dan matte yang mencapai 2,05 juta ton. Namun, porsi MHP terus dikebut.
Dengan total volume produksi yang masif ini, dominasi Indonesia di pasar global semakin tak tergoyahkan.
"Volume tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 60 persen." pungkas arif
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



