Sekolah Rakyat Sasar Anak Miskin Ekstrem untuk Jenjang SD hingga SMA
Kementerian Sosial memperluas akses pendidikan lewat Sekolah Rakyat yang menjaring puluhan ribu anak kurang mampu dari jenjang SD hingga SMA.

JAKARTA, Semualini.com - Kementerian Sosial (Kemensos) memperluas akses pendidikan formal melalui program Sekolah Rakyat yang dirancang khusus untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program ini mencakup berbagai jenjang pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) demi memastikan anak-anak marjinal mendapatkan hak belajar yang layak.
Berdasarkan data terbaru, program ini telah mencatatkan pendaftaran puluhan ribu siswa baru dari latar belakang prasejahtera tanpa melalui tes akademik yang memberatkan.
Langkah strategis ini diambil guna menekan angka anak tidak sekolah sekaligus memutus rantai kemiskinan struktural melalui jalur pendidikan yang inklusif.
Pelaksanaan Sekolah Rakyat difokuskan pada penjangkauan langsung anak-anak terlantar, anak jalanan, serta masyarakat yang masuk dalam kategori miskin ekstrem.
Pemerintah mengedepankan mekanisme verifikasi data di lapangan agar sasaran bantuan pendidikan ini benar-benar tepat sasaran.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa pola rekrutmen siswa dalam program ini tidak menggunakan mekanisme pendaftaran umum mandiri, melainkan penjangkauan aktif berbasis data valid di lapangan.
"Tidak ada pendaftaran Sekolah Rakyat, yang ada adalah penjangkauan. Datanya ada, faktanya sesuai, itu yang kita pegang," ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Lebih lanjut, Gus Ipul juga menekankan agar prioritas utama diberikan kepada kelompok anak-anak yang paling membutuhkan uluran tangan negara.
"Utamakan anak-anak terlantar, anak-anak yang masuk dalam kategori miskin ekstrem," tegasnya.
Selain menjangkau anak-anak berprestasi yang terkendala biaya, program Sekolah Rakyat juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang kemampuan akademiknya belum menonjol.
Pendekatan ini disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan agar setiap anak mendapatkan porsi bimbingan yang tepat.
"Ada yang tentu dia belum pintar dan belum beruntung. Ini macam-macam," ujar Saifullah menyoroti beragamnya kondisi latar belakang peserta didik.
Melalui sistem penjangkauan aktif ini, anak-anak yang sebelumnya terkendala biaya operasional sekolah maupun keterbatasan akses kini dapat kembali mengenyam proses belajar mengajar secara formal dari tingkat SD hingga SMA.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



