Iklan
Nasional

Keracunan MBG Cirebon: 270 Korban Dirawat, DPR Minta Penutupan Permanen Dapur SPPG

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mendesak penutupan permanen dapur penyedia MBG yang memicu keracunan massal 270 warga di Cirebon.

Keracunan MBG Cirebon: 270 Korban Dirawat, DPR Minta Penutupan Permanen Dapur SPPG
Foto: Keracunan MBG Cirebon: 270 Korban Dirawat, DPR Minta Penutupan Permanen Dapur SPPG. (Sumber : Ist)

Ringkasan Berita:

  • Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mendesak pemerintah menutup secara permanen dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan massal.
  • ​Jumlah korban kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon membengkak hingga mencapai 270 orang.
  • ​Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Siti Maria menyebut korban terdiri dari 231 anak-anak dan 39 dewasa yang dirawat di delapan rumah sakit berbeda.

JAKARTA, semualini.com – Gelombang kasus dugaan keracunan massal akibat penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus berulang di sejumlah daerah memicu keprihatinan dan amarah mendalam dari kalangan legislatif. 

Kasus terbaru yang melanda Kota Cirebon, Jawa Barat, dilaporkan telah menelan korban hingga mencapai 270 orang.  

​Merespons rentetan insiden keselamatan pangan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas dengan menutup secara permanen dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau katering penyedia MBG yang terbukti lalai.  

​"Saya sangat prihatin sekaligus marah melihat kasus dugaan keracunan MBG terus berulang. Kali ini di Cirebon, jumlah korban dilaporkan mencapai 270 orang. Sampai kapan anak-anak kita harus menjadi korban sebelum pemerintah benar-benar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program ini?" tegas Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, Kamis (22/10/2026).  

​Charles mengkritik keras sikap pemerintah yang dinilainya terlalu berfokus pada pemenuhan target kuota penyaluran program, namun mengesampingkan kontrol kualitas serta standar kebersihan pengolahan makanan di tingkat Dapur Satuan Pelayanan.  

​"Jangan sampai ambisi mengejar target penyaluran MBG justru mengabaikan standar keamanan pangan. Dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan harus ditutup secara permanen, bukan sekadar dihentikan sementara lalu diizinkan beroperasi kembali. Harus ada sanksi dan sanksi nyata ketika kelalaian dalam penyediaan makanan membahayakan kesehatan anak-anak," ujar Charles menambahkan.  

​Lebih lanjut, politikus Senayan tersebut mendorong Kementerian Kesehatan serta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengevaluasi skema distribusi, termasuk mempertimbangkan peralihan model dapur penyedia ke sistem berbasis sekolah (school-based kitchen) agar pengawasan harian jauh lebih terkontrol.  

Iklan

​"Jangan sampai pemerintah hanya sibuk mengejar jumlah penerima manfaat, sementara persoalan mendasar terkait keamanan pangan terus terabaikan. Tujuan MBG adalah memperbaiki gizi anak-anak kita, bukan justru membuat mereka masuk rumah sakit," cetus Charles menekankan fokus utama program.  

​Sementara itu, dari pembaruan data medis di lapangan, jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan usai menyantap paket MBG di Kota Cirebon terus bertambah hingga menembus ratusan orang.  

​Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, mengonfirmasi bahwa berdasarkan data terintegrasi hingga Rabu (21/10/2026) siang, total korban yang mendapatkan perawatan medis telah mencapai 270 jiwa.  

​"Data tadi siang, itu masih di 270. Yang terdampak 270, terdiri dari 231 anak dan ada 39 itu dewasa," jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, memaparkan rincian dampak insiden di wilayahnya.  

​Siti Maria menjelaskan bahwa akibat melonjaknya jumlah pasien secara mendadak, pihak Dinas Kesehatan harus membagi konsentrasi rujukan pasien ke delapan rumah sakit terdekat di Kota Cirebon demi memastikan seluruh korban mendapatkan pertolongan darurat yang cepat.  

​"Beberapa fasilitas kesehatan yang menangani korban di antaranya RS Siloam Putera Bahagia, RS Ciremai, serta Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati," pungkas Siti Maria mengakhiri keterangannya.  

​Penyelidikan sampel makanan oleh tim toksikologi dan uji mikrobiologi hingga kini masih terus berjalan, sementara operasional dapur SPPG penyuplai di wilayah Kalijaga Cirebon telah dihentikan sementara oleh pihak berwenang guna mengusut tuntas penyebab pencemaran makanan tersebut.  

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.