Harga Minyak Dunia Bergejolak, Perlukah Harga Pertamax Mengikuti Pasar?
Ekonom Unpad menilai harga Pertamax mengikuti pasar lebih minim berdampak pada inflasi, sementara pemerintah menjaga harga BBM subsidi hingga akhir 2026.

Jakarta, Semualini.com - Opsi untuk membiarkan harga Pertamax mengikuti mekanisme pasar kembali menjadi perhatian di tengah gejolak harga energi global. Ekonom energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai kebijakan tersebut berpotensi memberikan tekanan yang lebih terbatas terhadap inflasi dan daya beli dibandingkan menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite.
Yayan menyampaikan pandangan tersebut pada Rabu (23/9/2026), dengan merujuk pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025. Menurut dia, sekitar 80% konsumsi Pertamax berasal dari kelompok rumah tangga pada desil 8 hingga 10.
Komposisi tersebut berbeda dengan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Yayan menyebut konsumsi Pertamax pada kelompok desil 1 hanya sekitar 1%, sedangkan pada desil 10 mencapai sekitar 78%.
Berdasarkan perhitungan yang disampaikannya, perubahan harga Pertamax akan lebih banyak dirasakan rumah tangga dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi. Tambahan pengeluaran diperkirakan sekitar Rp395.000 per bulan bagi pengguna mobil dan Rp119.000 bagi pengguna sepeda motor.
Yayan memperkirakan dampak penyesuaian harga Pertamax terhadap inflasi berada pada kisaran 0,3 hingga 0,5 poin persentase. Karena itu, ia membandingkan dampaknya dengan kemungkinan kenaikan harga Pertalite yang digunakan oleh masyarakat secara lebih luas.
"Kalau harus memilih dari sisi inflasi dan daya beli, melepas harga Pertamax jauh lebih aman. Sebanyak 80% Pertamax dipakai kelompok terkaya, jadi menaikkannya nyaris tidak terasa oleh rakyat kecil," ujar Yayan.
Yayan mengatakan kenaikan Pertalite berpotensi memberikan efek yang lebih luas karena bahan bakar tersebut digunakan dalam aktivitas transportasi masyarakat dan distribusi barang. Kenaikan biaya bahan bakar dapat diteruskan ke biaya transportasi maupun logistik, yang selanjutnya berpotensi memengaruhi harga berbagai barang.
Menurut Yayan, perbedaan dampak tersebut membuat kebijakan harga antara BBM nonsubsidi dan BBM subsidi perlu dipertimbangkan secara berbeda.
Risiko Perpindahan Konsumsi
Di sisi lain, penerapan mekanisme pasar pada Pertamax memiliki konsekuensi yang perlu diperhitungkan. Ketika jarak harga antara Pertamax dan Pertalite semakin lebar, sebagian konsumen dapat beralih menggunakan BBM bersubsidi.
Yayan menyebut perpindahan tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap konsumsi Pertalite. Apabila tidak disertai pengendalian, kondisi itu berpotensi menambah kebutuhan subsidi dan meningkatkan risiko keterbatasan pasokan.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.




