Iklan
Kolom Opini

Menolak Emas, Memilih Gendang: Kisah Pong Sampun, Pendiri Tongkonan Kalolok di Sangalla Utara

Di Kalolok, Lembang Saluallo, Sangalla Utara, berdiri salah satu tongkonan tertua di Tana Toraja.

Menolak Emas, Memilih Gendang: Kisah Pong Sampun, Pendiri Tongkonan Kalolok di Sangalla Utara
Foto: Foto: Tongkonan Kalolok Pong Sampun di Lembang Saluallo, Sangalla Utara. (Dok. keluarga).

2. Ruang musyawarah. Masalah keluarga, persiapan upacara adat seperti Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’, maupun kombongan (rapat bersama) dibicarakan di tongkonan hingga tercapai mufakat.

3. Warisan bersama. Tongkonan tidak dimiliki perorangan, tetapi oleh seluruh keluarga besar keturunan pendirinya. 
Menjaga dan merawatnya adalah tanggung jawab bersama sebagai wujud gotong royong.

4. Simbol martabat. Tegaknya sebuah tongkonan mencerminkan wibawa dan keharmonisan keluarga.

Arahnya yang selalu menghadap ke utara melambangkan penghormatan kepada Puang Matua dan para leluhur.

Meskipun kini banyak di antara kami yang tinggal di rumah pribadi, bahkan di perantauan, hubungan batin dan adat kami dengan Tongkonan Kalolok Pong Sampun tidak akan pernah terputus.

Iklan

Musyawarah sebagai Jalan Tengah

Dalam tradisi keluarga Tongkonan Kalolok Pong Sampun, To Urrambu Tongkonan atau pemangku tongkonan ditentukan melalui kada situru’ (kesepakatan bersama).

Keluarga mengenang bagaimana Ne’ Boro’ menyerahkan amanah itu kepada Ne’ Tambing dan istrinya, Lai’ Sesa.

Walaupun Ne’ Tambing adalah anak kedua, amanah itu diberikan kepadanya karena telah disepakati bersama.

Tradisi ini mencerminkan filosofi To Pada Tindo Sia To Pada Ma’ Paramparan, yang sejalan dengan ungkapan misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate, artinya “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.