Menolak Emas, Memilih Gendang: Kisah Pong Sampun, Pendiri Tongkonan Kalolok di Sangalla Utara
Di Kalolok, Lembang Saluallo, Sangalla Utara, berdiri salah satu tongkonan tertua di Tana Toraja.

Kisah ini dituturkan oleh Ne’ Sattu (Ne’ Pala’), anak Ne’ Boro’, dan oleh Sitti Mina, cucu Ne’ Boro’. Dalam kisah itu, Pong Sampun digambarkan sebagai sosok pemberani yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Alkisah, ada seorang bernama Lua’ Lindo. Namanya berarti “muka lebar”, karena konon jarak antara mata kiri dan mata kanannya mencapai tiga jengkal.
Suatu hari, Lua’ Lindo ma’ sumpi’ (meniup sumpit) ke arah Buntu Kaero, dan sumpitnya mengenai anak Puang Buntu Kaero. Puang Buntu Kaero lalu mengadakan sayembara.
Siapa pun yang dapat mengalahkan Lua’ Lindo dan membawa bukti ke hadapannya akan diberi kekayaan sesuai keinginannya. Pong Sampun menyusun siasat, menghadapi Lua’ Lindo, dan berhasil memenangkan sayembara itu.
Atas keberhasilannya, Pong Sampun ditawari emas, sawah, dan berbagai harta lainnya.
Namun, ia hanya memilih sebuah gandang (gendang). Secara materi, gendang tidak bernilai besar.
Akan tetapi, dalam budaya Toraja, gandang bukan sekadar alat musik.
Gandang memiliki makna sosial, adat, dan spiritual karena berkaitan dengan upacara adat, identitas komunitas, serta hubungan manusia dengan leluhur.
Ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini:
1. membela keadilan dan kebenaran harus dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh, dan penuh keberanian;
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.
