Terobosan Baru Program MBG: BGN Targetkan 5.000 Dapur Terapkan Sistem Prasmanan
Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 5.000 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan metode penyajian prasmanan untuk meningkatkan kualitas gizi siswa.

JAKARTA, Semualini.com - Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan target sebanyak 5.000 unit dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menerapkan skema penyajian dengan metode prasmanan guna mengoptimalkan kualitas sajian serta efisiensi konsumsi makanan para siswa.
Rencana perluasan skema pelayanan ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono. Sebagai langkah awal implementasi, pihak BGN bakal menjalankan uji coba (piloting) penyajian prasmanan selama rentang waktu dua minggu.
Langkah penyesuaian mekanisme ini diambil berdasarkan pertimbangan evaluasi teknis serta efektivitas penyaluran asupan gizi kepada para peserta didik penerima manfaat di sekolah.
Keunggulan Metode Prasmanan dan Tingkat Kehabisan Makanan Siswa
Menurut penjelasan Sudaryono, skema pelayanan prasmanan menyimpan sejumlah keunggulan teknis jika dibandingkan dengan metode pengemasan konvensional. Salah satu indikator keberhasilan utamanya terlihat dari tingkat konsumsi makanan siswa yang tercatat relatif tinggi hingga habis tak tersisa.
Skema ini juga memberikan fleksibilitas porsi bagi peserta didik yang masih membutuhkan asupan tambahan. Makanan yang disajikan langsung di lokasi kelas tetap terjaga suhu panasnya sehingga kondisinya lebih segar saat disantap.
“Dari hasil MBG prasmanan itu, tingkat kehabisannya relatif tinggi. Jadi habis. Kalau masih ada sisa, siswa yang masih ingin nambah bisa nambah. Kemudian makanannya itu hangat-hangat dibawa ke kelas, jadi lebih segar, lebih hangat, lebih enak,” jelasnya.
Di samping manfaat langsung terhadap kualitas hidangan, BGN memandang mekanisme penyajian prasmanan ini memiliki nilai edukatif bagi perkembangan karakter peserta didik di lingkungan sekolah.
Melalui proses mengambil makanan sendiri secara teratur, siswa diajarkan nilai kepemimpinan, kedisiplinan, serta pemahaman mandiri mengenai komposisi gizi seimbang.
BGN juga berharap proses edukasi gizi secara rutin ini dapat membangun kesadaran anak-anak akan pentingnya memilih makanan yang beragam dan bergizi tinggi.
Kesiapan Dapur dan Sekolah dalam Menghadapi Tantangan Penerapan
Meski skema ini menawarkan banyak dampak positif, BGN menyadari bahwa eksekusi lapangan metode prasmanan memerlukan kesiapan operasional yang matang.
Tantangan utama yang dihadapi terletak pada kesiapan teknis pengelola dapur penyedia serta kesiapan infrastruktur di masing-masing satuan pendidikan.
Oleh karena itu, tahap awal penerapan skema prasmanan tidak dipaksakan secara serentak, melainkan dilakukan secara selektif. BGN memprioritaskan fasilitas dapur dan sekolah yang menyatakan kesiapan serta memiliki komitmen untuk berkolaborasi.
“Tantangannya adalah yang harus dilatih adalah dapurnya dan yang harus dilatih adalah sekolahnya. Kami akan memulai prasmanan ini dari dapur yang bisa dan mau, serta sekolah yang mau, bisa, dan punya kerelaan untuk dibantu,” pungkasnya.
Melalui program pelatihan berkala dan pendampingan terpadu bagi pengelola dapur serta pihak sekolah, BGN optimistis pencapaian target 5.000 dapur MBG prasmanan dapat direalisasikan secara bertahap tanpa mengganggu kelancaran distribusi makanan harian.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



