Iklan
Iklan
Dunia

Houthi Peringatkan Negara Lain di Tengah Memanasnya Perang Yaman

Houthi memperingatkan negara lain agar tidak bergabung dengan Arab Saudi dalam konflik Yaman dan menyatakan masih membuka peluang perdamaian.

Houthi Peringatkan Negara Lain di Tengah Memanasnya Perang Yaman
Foto: Kelompok Houthi di Yaman (Sumber: REUTERS/Khaled Abdullah)

SANAA - Kelompok Houthi memperingatkan negara-negara lain agar tidak bergabung dengan Arab Saudi dalam konflik yang kembali meningkat di Yaman. Peringatan itu disampaikan Mohamed al-Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, setelah kelompok tersebut memperluas pengaruhnya di pesisir barat Yaman hingga mendekati Selat Bab el-Mandeb.

Al-Bukhaiti mengatakan Houthi telah melakukan kontak tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui Oman. Dalam komunikasi tersebut, Houthi menyatakan tidak menjadikan kapal-kapal Amerika Serikat maupun negara lain sebagai sasaran di Selat Bab el-Mandeb, dengan pengecualian terhadap kepentingan Arab Saudi.

Houthi Beri Peringatan kepada Negara yang Bergabung dengan Saudi

Al-Bukhaiti memperingatkan negara mana pun yang memilih terlibat dalam konflik Yaman bersama Arab Saudi.

Ia mengatakan Houthi memiliki kemampuan untuk menghadapi konflik di sejumlah front. Menurutnya, keterlibatan negara lain dalam operasi militer bersama Arab Saudi dapat memperluas konflik dari persoalan internal Yaman menjadi konflik yang melibatkan lebih banyak negara.

“Jika ada negara mana pun yang terlibat dalam agresi terhadap Yaman bersama Arab Saudi,” ujar Al-Bukhaiti.

Ia kemudian menegaskan bahwa situasi tersebut dapat berkembang menjadi konflik internasional.

“Hari ini, Yaman mampu melancarkan perang—bukan sekadar konflik internal, tetapi juga konflik internasional,” katanya.

Serangan terhadap Saudi Disebut Akan Berlanjut

Al-Bukhaiti mengatakan serangan Houthi terhadap Arab Saudi akan terus dilakukan selama Riyadh masih memberlakukan blokade terhadap wilayah-wilayah Yaman yang dikuasai kelompok tersebut.

Ia menyebut Houthi menginginkan akses kapal menuju pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah yang berada di bawah kendali mereka. Setelah tuntutan tersebut dipenuhi, Houthi menyatakan terbuka untuk kembali melakukan perundingan.

Ketegangan meningkat setelah serangan udara yang menurut Houthi dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi menghantam Bandara Internasional Sanaa. Serangan tersebut disebut menghambat penerbangan dari Iran yang membawa delegasi Houthi.

Houthi kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi. Salah satu serangan disebut menargetkan Riyadh dan berhasil dicegat oleh pertahanan Saudi.

Houthi Klaim Tidak Menargetkan Kapal Amerika

Di tengah meningkatnya ketegangan, Houthi juga menyatakan tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika Serikat di Laut Merah.

Al-Bukhaiti mengatakan kelompoknya telah menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan negara lain tidak menjadi sasaran operasi mereka di kawasan Selat Bab el-Mandeb, kecuali kepentingan yang berkaitan dengan Arab Saudi.

Menurutnya, tujuan operasi militer Houthi bukan menutup Selat Bab el-Mandeb, melainkan memastikan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintas, termasuk kapal yang berkaitan dengan Yaman.

Konflik Kembali Meningkat

Pertempuran di Yaman kembali meningkat setelah periode relatif tenang sejak gencatan senjata 2022. Dalam perkembangan terbaru, Houthi memperluas kendali di sepanjang pesisir barat Yaman dan merebut kota pelabuhan Mokha serta sejumlah pulau di Laut Merah.

Perkembangan tersebut meningkatkan perhatian terhadap keamanan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. PBB menyebut situasi di sekitar selat tersebut semakin tidak stabil seiring berlanjutnya pertempuran di pesisir barat Yaman.

PBB juga mencatat adanya serangan rudal dan drone Houthi ke sejumlah wilayah Arab Saudi serta laporan kerusakan terhadap fasilitas sipil dan energi. Situasi tersebut menjadi bagian dari eskalasi lintas batas yang lebih luas.

Houthi Masih Membuka Jalan untuk Perdamaian

Meski memberikan peringatan kepada negara lain, pimpinan Houthi menyatakan peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Mahdi al-Mashat, Presiden Dewan Politik Tertinggi Houthi, mengatakan kelompoknya masih membuka kemungkinan untuk mencapai perdamaian.

“Kami belum menutup pintu bagi perdamaian,” kata al-Mashat dalam pidatonya pada Minggu.

Pernyataan tersebut muncul ketika konflik Yaman kembali memasuki fase eskalasi dan perhatian internasional meningkat terhadap keamanan warga sipil serta jalur pelayaran di kawasan Laut Merah.

Bagi Houthi, penghentian blokade dan akses terhadap pelabuhan menjadi bagian penting dari tuntutan mereka. Sementara itu, perkembangan militer di pesisir barat Yaman membuat konflik tersebut berpotensi memiliki dampak yang lebih luas terhadap keamanan kawasan dan pelayaran internasional.

✓ Anda sedang membaca versi lengkap (3 halaman digabung). Kembali ke tampilan per halaman