Iklan
Dunia

Trump Sebut AS Bisa Kembali Gelar Operasi Militer Terhadap Iran

Presiden AS Donald Trump memberikan isyarat adanya operasi militer baru terhadap Iran meski mengklaim kapasitas pengayaan nuklir Teheran telah dilumpuhkan.

Trump Sebut AS Bisa Kembali Gelar Operasi Militer Terhadap Iran
Foto: Donald Trump Presiden AS. (Sumber: REUTERS)

JAKARTA, Semualini.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan peluang peluncuran operasi militer baru terhadap Iran. Pernyataan ini disampaikan di tengah klaim pemerintahannya yang menyebut telah berhasil melumpuhkan kapasitas pengayaan nuklir Teheran.

Opsi serangan baru ini mengemuka saat ketegangan geopolitik dan pembatasan maritim di kawasan Timur Tengah belum mereda. Meskipun beberapa pejabat Gedung Putih sempat menyatakan penundaan aksi militer signifikan hingga selesainya pemilu sela AS pada November mendatang, Trump menegaskan bahwa opsi tindakan militer langsung tetap terbuka dalam waktu dekat.

Dalam keterangannya di hadapan pendukung dan wartawan di South Lawn Gedung Putih. 

Trump menyebut bahwa langkah militer sebelumnya telah melemahkan fasilitas inti Iran secara signifikan. "Kita telah melenyapkan kapasitas pengayaan nuklir Iran melalui Operation Midnight Hammer," ujar Trump.

Kendati mengeklaim operasi terdahulu telah berhasil menekan kemampuan nuklir Iran, Trump memberikan sinyal bahwa Washington tidak menutup kemungkinan untuk mengambil langkah ofensif tambahan. 

Iklan

"Kita mungkin saja melakukan operasi kecil (little Epic Fury) lainnya, atau mereka akan setuju [bernegosiasi]," tutur Trump saat merespons pertanyaan mengenai kelanjutan aksi militer AS.

Lebih lanjut, Trump menyampaikan perhitungan waktunya terkait potensi aksi militer tersebut. 

"Kita bisa menyelesaikannya dengan sangat cepat. Pertanyaannya adalah apakah kita ingin menyelesaikannya sekarang atau membiarkannya mereda dengan sendirinya," tambah Trump.

Isyarat peningkatan aksi militer ini memicu respons kritis dari sejumlah negara. Dalam pertemuan tingkat menteri luar negeri di Istanbul yang dihadiri perwakilan Turki, Prancis, Jerman, Inggris, serta negara-negara kawasan, para diplomat memperingatkan dampak negatif serangan baru.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan bahwa intervensi militer tambahan tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan memperluas eskalasi perang di kawasan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menekankan bahwa eskalasi bersenjata berisiko mengguncang stabilitas pasar energi dan memicu lonjakan harga hidrokarbon global.

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.