Iklan
Dunia

Prediksi Harga Emas Minggu Ini: Menakar Peluang Naik dan Risiko Koreksi

Pergerakan harga emas dunia pekan ini berpotensi menguji resisten US$ 4.195 usai meredanya ekspektasi hawkish The Fed pascapernyataan Kevin Warsh.

Prediksi Harga Emas Minggu Ini: Menakar Peluang Naik dan Risiko Koreksi
Foto: Ilustrasi Emas (Sumber: Shutterstock)

JAKARTA, Semualini.com - Pasar komoditi internasional mencatat dinamika menarik pada pergerakan harga emas dunia sepanjang pekan lalu. Meskipun sempat ditutup melemah tipis 0,11% pada level US$ 4.166,4 per troy ons di pasar spot pada perdagangan Jumat (16/10/2026), harga logam mulia tersebut secara mingguan masih membukukan kenaikan tipis sebesar 0,66% secara point-to-point.

Meredanya ekspektasi kebijakan moneter agresif dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) menjadi faktor penopang utama bagi stabilitas pasar logam mulia. Fokus para investor kini tertuju pada dinamika suku bunga Federal Reserve dan indikator teknikal untuk membaca arah pergerakan harga emas dunia pada pekan ini.

Arah Suku Bunga The Fed

Sentimen baru pergerakan harga emas dunia dipengaruhi oleh pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam ajang Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok. 

Warsh menegaskan komitmen otoritas moneter terhadap stabilitas harga, meskipun ia enggan merinci langkah kebijakan dalam rapat-rapat mendatang.

"Kami sudah jelas menyebut akan mewujudkan stabilitas harga, dan kami sudah menghapus sebagian kebijakan akomodatif sekitar sebulan lalu. Saya tidak menebak rapat ke rapat. Saya tidak yakin bahwa sesuatu yang saya katakan sekarang akan berdampak terhadap rapat selanjutnya," tutur Warsh, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Iklan

Pasca-pernyataan tersebut, spekulasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed periode Oktober melandai dari mendekati 30% menjadi sekitar 15%. Chief Investment Officer Read Capital Partners, Gerald Tan, menilai langkah tersebut meredam ekspektasi agresif di pasar.

"Warsh sengaja untuk meredam ekspektasi hawkish di pasar dan membawa stabilitas di pasar obligasi. Inflasi memang masih menjadi perhatian, dan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut tidak bisa dikesampingkan. 

Namun Warsh sepertinya tidak buru-buru dalam menaikkan suku bunga acuan lagi," jelas Gerald Tan, Chief Investment Officer di Read Capital Partners, juga dikutip dari Bloomberg News.

Karena emas merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), tertahannya laju kenaikan suku bunga memberikan ruang penahanan agar harga emas tidak terkoreksi terlalu dalam.

Melihat pergerakan harga emas dunia dalam perspektif mingguan (weekly time frame), indikator teknikal menunjukkan aset ini masih berada di area konsolidasi bearish. 

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.