AS Buka Jalan Penjualan 48 Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi
AS menyepakati penjualan 48 jet tempur F-35 kepada Arab Saudi untuk memperkuat pertahanan dan interoperabilitas militer dengan Amerika Serikat.

Washington - Amerika Serikat menyepakati penjualan 48 jet tempur F-35 kepada Arab Saudi. Rencana penjualan pesawat tempur tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan Arab Saudi sekaligus meningkatkan interoperabilitas militernya dengan Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri AS menyatakan penjualan F-35 akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menghadapi berbagai ancaman. Selain memperkuat pertahanan dalam negeri, kerja sama tersebut disebut dapat mempererat kemampuan operasional antara militer Arab Saudi dan pasukan AS.
“Usulan penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menangkal ancaman saat ini dan masa depan dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS,” kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat (18/9/2026).
Arab Saudi Bakal Tambah Pesawat Operasional
Kementerian Luar Negeri AS juga menyebut penjualan tersebut akan menambah jumlah pesawat yang dapat dioperasikan oleh Arab Saudi. F-35 dinilai dapat memberikan tambahan kemampuan bagi negara tersebut dalam menjalankan misi pertahanan udara.
“Penjualan ini juga akan menambah jumlah pesawat operasional Arab Saudi serta meningkatkan kemampuan pertahanan diri udara-ke-udara dan udara-ke-darat mereka,” lanjut pernyataan tersebut.
F-35 merupakan pesawat tempur yang dirancang untuk menjalankan berbagai misi, termasuk operasi udara-ke-udara dan udara-ke-darat. Rencana pengadaan tersebut sekaligus memperluas kemampuan militer Arab Saudi dalam mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima.
AS Klaim Penjualan F-35 Tak Ubah Keseimbangan Militer
Di tengah rencana transaksi tersebut, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan penjualan F-35 kepada Arab Saudi tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan.
“Penjualan F-35 ini tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan tersebut,” ujar Kementerian Luar Negeri.
Pernyataan itu berkaitan dengan kebijakan lama Amerika Serikat yang mempertahankan keunggulan militer Israel dibandingkan negara-negara lain yang berpotensi menjadi ancaman di kawasan Timur Tengah.
Dengan kebijakan tersebut, setiap rencana penjualan persenjataan canggih AS kepada negara di kawasan menjadi perhatian karena berkaitan dengan kemampuan militer dan keseimbangan kekuatan regional.
Penjualan F-35 Tuai Kekhawatiran di AS
Rencana penjualan tersebut juga mendapat sorotan dari anggota Kongres Amerika Serikat. Salah satu kekhawatiran yang disampaikan berkaitan dengan kemungkinan teknologi militer AS yang sangat sensitif jatuh ke tangan pihak lain.
Krishnamoorthi memperingatkan mengenai risiko keamanan yang dapat muncul apabila teknologi militer Amerika Serikat tidak terlindungi dengan baik.
“Hal itu tidak boleh dilanjutkan ketika komunitas intelijen kita sendiri memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat membuat teknologi militer paling vital milik Amerika jatuh ke tangan Partai Komunis Tiongkok,” kata Krishnamoorthi dalam sebuah pernyataan.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan adanya perhatian terhadap aspek keamanan teknologi di balik rencana penjualan F-35. Di satu sisi, pemerintah AS menyatakan kesepakatan tersebut dapat memperkuat kemampuan pertahanan Arab Saudi dan kerja sama militernya dengan Washington. Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai perlindungan teknologi strategis Amerika Serikat.
Rencana penjualan 48 F-35 kepada Arab Saudi pun menjadi bagian dari perkembangan kerja sama pertahanan AS-Arab Saudi yang juga berkaitan dengan dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.




