Uji Nyali di Gunung Anak Krakatau, Tiga Kali Terjatuh di Medan Ekstrem
Budiyan yang datang dari Singapura untuk membuat konten edukasi alam liar mengalami perjalanan ekstrem di Gunung Anak Krakatau. Medan berpasir, suhu panas, minimnya perlengkapan, hingga risiko aktivitas vulkanik membuat pengalaman tersebut menjadi ujian fisik dan mental.

DEPOK - Gunung Anak Krakatau menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Budiyan, turis asal Singapura, bersama rombongannya. Datang untuk membuat konten edukasi tentang alam liar dan aktivitas vulkanik, perjalanan mereka justru berubah menjadi tantangan fisik yang cukup ekstrem.
Budiyan tersebut bertolak dari Singapura dengan ekspektasi menikmati wisata alam. Namun, kondisi yang mereka temui setelah tiba di kawasan Anak Krakatau jauh dari perjalanan wisata biasa.
Lanskap gunung didominasi pasir dan material vulkanik yang gersang. Ditambah teriknya matahari, medan tersebut membuat perjalanan menuju bagian atas gunung menjadi semakin berat.
Budiyan mengatakan kondisi medan di Anak Krakatau memberikan pengalaman berbeda bagi rombongannya.
“Medannya sangat sulit dan panas. Kami awalnya mengira perjalanan ini akan menjadi pengalaman wisata alam biasa, ternyata tantangannya jauh lebih berat,” kata Budiyan, wisatawan asal Singapura.

Salah satu bagian yang cukup menegangkan terjadi ketika anggota rombongan mencoba menaiki medan berpasir menuju kawah dengan perlengkapan sederhana.
Ia bahkan berjalan menuju Anak Krakatau hanya menggunakan sandal, kondisi permukaan yang licin serta pasir yang mudah bergeser membuat perjalanan menjadi sulit.
Dalam proses pendakian tersebut, wisatawan itu sempat kehilangan keseimbangan dan terjatuh hingga tiga kali. Ia harus merangkak dan mencari pijakan yang lebih kuat untuk dapat melanjutkan perjalanan.
Budiyan mengakui pengalaman tersebut membuat mereka semakin menyadari bahwa kawasan gunung api aktif tidak bisa diperlakukan seperti destinasi wisata biasa.
“Kami benar-benar merasakan bahwa Anak Krakatau bukan tempat yang bisa didatangi tanpa persiapan. Setelah mengalami sendiri medannya, kami lebih memahami risikonya,” ujarnya.
Persoalan lain muncul dari sisi persiapan logistik. Rombongan disebut tidak membawa air minum yang cukup, payung, maupun pelembab kulit, padahal mereka harus berhadapan dengan paparan matahari yang cukup terik.
Di tengah perjalanan, sempat muncul candaan mengenai kemungkinan menemukan warung kopi di kawasan puncak. Namun, suasana berubah ketika rombongan semakin dekat dengan kawah.
Saat berhasil mencapai titik puncak, mereka dapat melihat langsung lingkungan vulkanik yang masih menunjukkan aktivitas. Asap dan kondisi kawasan kawah membuat pengalaman tersebut terasa jauh lebih serius.
Bagi Budiyan dan rombongannya, perjalanan tersebut memberikan pelajaran mengenai pentingnya kesiapan ketika berada di kawasan gunung api aktif.
“Pengalaman ini sangat berkesan, tetapi bagi kami mungkin cukup sekali. Kami tidak ingin mengulangi perjalanan seperti ini tanpa persiapan yang jauh lebih baik,” tutur Budiyan.
Gunung Anak Krakatau sendiri memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik. Kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah Krakatau 1883 yang berdampak besar terhadap wilayah sekitar Selat Sunda serta peristiwa tsunami pada 2018.
Pengalaman Budiyan dan rombongannya menjadi pengingat bahwa daya tarik kawasan vulkanik harus diimbangi dengan kewaspadaan. Perlengkapan yang sesuai, persediaan air, perlindungan dari cuaca, serta kepatuhan terhadap ketentuan keselamatan menjadi bagian penting sebelum melakukan aktivitas di sekitar gunung api aktif.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



