Iklan
Iklan
Gaya Hidup

Sempat Mengira Krakatau Ada di Meksiko, Wisatawan Ini Akhirnya Melihat Anak Krakatau

Seorang wisatawan menceritakan perjalanannya ke Anak Krakatau, bermula dari rasa penasaran sejak kecil hingga melihat langsung kawah, medan pasir vulkanik, panas, dan minimnya sinyal di lokasi.

Sempat Mengira Krakatau Ada di Meksiko, Wisatawan Ini Akhirnya Melihat Anak Krakatau
Foto: Sempat Mengira Krakatau Ada di Meksiko, Wisatawan Ini Akhirnya Melihat Anak Krakatau

DEPOK - Nama Krakatau ternyata sudah dikenal seorang wisatawan sejak kecil. Namun, ia justru sempat mengira gunung yang namanya mendunia itu berada di Meksiko.

Kebingungan tersebut muncul karena ia lebih mengenal nama Krakatoa, sebutan yang banyak digunakan dalam konteks internasional. Rasa penasaran kemudian membuatnya mencari informasi mengenai asal-usul Krakatoa melalui internet.

“ Aku dari kecil, dengar Krakatau itu, ingatkan di Meksiko. Nama dia, dia ada Krakatoa. Kita dari Krakatoa, bukan Krakatau. Kalau bahasa internasional, Krakatoa,” ujar Budiyan salah satu wisatawan Singapore yang sudah pergi ke Gunung Anak Krakatau pada tahun 2024 kepada Semualini, Minggu (6/9/2026)..

Ia kemudian mencoba mencari tahu lebih jauh. Dari YouTube hingga Google Maps, barulah ia mengetahui bahwa Krakatoa yang selama ini didengarnya ternyata berada di Indonesia, tepatnya di kawasan Selat Sunda.

“Jadi, Krakatoa apa ini? Apa Krakatoa ini? Nonton di YouTube. Eh, ini Indonesia ini. Dari situ lah,” katanya.

Rasa penasaran itu kemudian berkembang menjadi ketertarikan terhadap sejarah Krakatau. Ia mulai mempelajari letusan besar Krakatau pada 1883 serta peristiwa tsunami yang terjadi setelah aktivitas Anak Krakatau pada 2018.

“Dari situ lah belajar sejarahnya. Dari meletus tahun 1883, ya 1883. Lepas itu 2018 yang tsunami,” tuturnya.

Melihat Anak Krakatau Secara Langsung

Setelah sebelumnya hanya mengenal Krakatau melalui video dan informasi di internet, kesempatan melihat langsung Anak Krakatau memberikan pengalaman berbeda.

Ia mengatakan dirinya tidak datang dengan tujuan mengajak orang berwisata ke kawasan tersebut. Menurutnya, cerita yang ingin dibagikan lebih kepada memperlihatkan kepada publik seperti apa Anak Krakatau yang selama ini dikenal melalui sejarah dan pemberitaan dunia.

“Tapi kita bukan mau orang datang ke Krakatau. Cuma, oke, kalau bahasa Inggris, this is Krakatau, that's it,” ujarnya.

Ketika berada di kawasan Anak Krakatau, ia mulai melihat bentuk gunung dan kawah dari jarak yang menurutnya cukup dekat. Pemandangan tersebut membuatnya terkejut.

Ia mengaku bentuk kawah Anak Krakatau yang terlihat dari dekat memberikan kesan berbeda dibandingkan gambaran yang selama ini ia lihat melalui layar.

“Oh ini bentuknya kawah Anak Krakatau. Kawah di tepi, kawah ini. Allah, memang serem,” tuturnya.

Medan Pasir Vulkanik Bikin Pendakian Berat

Pengalaman menuju kawasan atas Anak Krakatau juga tidak mudah. Menurutnya, medan berupa pasir vulkanik membuat perjalanan menjadi lebih melelahkan.

Ia menceritakan pengalaman seorang temannya yang ikut melakukan pendakian. Sang teman menggunakan pakaian sederhana, celana pendek hingga sandal, berbeda dengan orang lain yang menggunakan perlengkapan lebih lengkap.

“Orang semua pakai sepatu, baju full kayak gini. Dia santai, dia pakai topi, baju biasa, celana pendek, kaos kaki, sandal,” katanya.

Kondisi pasir membuat temannya beberapa kali terjatuh ketika mencoba naik.

Menurut cerita tersebut, perjalanan menuju kawasan atas dan kembali turun memerlukan waktu sekitar dua jam. Bahkan setelah mencapai salah satu titik, temannya memilih berhenti karena sudah kelelahan.

Panas Kawah dan Gunung yang Punya Sejarah Panjang

Semakin mendekati kawasan kawah, suasana yang dirasakan semakin berbeda. Panas aktivitas vulkanik menjadi salah satu hal yang paling membekas dalam ingatannya.

“Panasnya tuh, ya Allah. Kita rasa panas di bawah, apa lagi yang di sebelah kawah,” tuturnya.

Berada di depan kawah juga membuatnya kembali teringat sejarah panjang Krakatau, terutama letusan 1883 dan tsunami yang terjadi pada 2018.

“Ini bukan gunung biasa. Ini gunung yang dah bunuh banyak orang, tahun 1883, dan tahun 2018,” katanya.

Ia menyadari bahwa pengalaman berada begitu dekat dengan gunung api aktif bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sebagai perjalanan biasa.

Tak Ada Sinyal, Persiapan Darurat Jadi Penting

Selain medan pendakian, persoalan komunikasi menjadi tantangan lain. Ia mengatakan tidak menemukan jaringan telepon seluler di kawasan tersebut.

“Sinyal semua nggak ada. Satu sinyal pun nggak ada,” ujarnya.

Karena kondisi tersebut, mereka menyiapkan perangkat komunikasi untuk mengantisipasi apabila terjadi keadaan darurat.

“Kalau kita ada emergency, darurat, Starlink tuh cuma bisa kita koneksi telepon. Kalau ada apa-apa terjadilah,” katanya.

Ketiadaan sinyal membuat perjalanan tersebut membutuhkan persiapan lebih matang. Apalagi, lokasi yang mereka datangi relatif sepi dan tidak ada orang lain di sekitar mereka.

“Tidak ada orang langsung. Satu orang pun nggak ada,” tuturnya.

Drone Jatuh Jadi Momen Paling Menegangkan

Salah satu kejadian yang paling diingat dalam perjalanan tersebut adalah ketika drone yang digunakan untuk merekam perjalanan mengalami masalah dan jatuh.

Menurutnya, drone tersebut sempat dikendalikan sebelum akhirnya terjatuh. Momen itu bahkan ikut terekam dalam video perjalanan.

“Yang paling parah waktu drone jatuh tuh. Dia dapat kawal drone tuh, terus jatuh,” katanya.

Meski mengalami berbagai tantangan, perjalanan tersebut akhirnya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Ia bahkan mengatakan belum tentu berani kembali melakukan perjalanan serupa.

“Kalau aku mau pergi lagi, aku nggak berani lagi lah. Jadi itu memory, mungkin sampai tua, jadi bisa cerita dengan anak-anak,” ujarnya.

Bagi wisatawan tersebut, perjalanan ke Anak Krakatau bukan sekadar tentang melihat gunung api dari dekat. Perjalanan itu bermula dari rasa penasaran terhadap nama Krakatoa, bahkan dari anggapan masa kecil bahwa gunung tersebut berada di Meksiko.

Kini, setelah melihat langsung Anak Krakatau, ia memiliki cerita sendiri tentang gunung yang selama bertahun-tahun hanya dikenalnya melalui sejarah, YouTube, dan berita.