Iklan
Iklan
Nasional

Muhaimin Iskandar Soroti Persaingan Perguruan Tinggi di Era AI

Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mengingatkan lulusan perguruan tinggi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Muhaimin Iskandar Soroti Persaingan Perguruan Tinggi di Era AI
Foto: Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. (Sumber : Tangkapan Layar Tiktok Muhaimin Iskandar)

SITUBONDO – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyoroti semakin kompleksnya persaingan yang dihadapi dunia pendidikan tinggi di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Hal tersebut disampaikan Muhaimin saat menghadiri Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy di Pondok Pesantren Salafiyah, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026).

Dalam sambutannya, Muhaimin menekankan bahwa tantangan perguruan tinggi saat ini tidak lagi sebatas persaingan antarkampus. 

Perubahan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia melihat dunia, bekerja, belajar, hingga berinteraksi.

“Tantangan hari ini dengan berbagai perkembangan dan perubahan yang terus terjadi begitu cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Muhaimin dalam sambutannya.

Menurut dia, perkembangan tersebut terutama terlihat dalam kemajuan teknologi informasi dan teknologi digital yang telah mengubah berbagai aspek kehidupan.

“Terutama teknologi informasi dan teknologi digital telah merubah seluruh cara pandang dunia, cara kerja dunia, dan hidup baru,” kata Muhaimin.

AI MENGUBAH PERAN MANUSIA

Muhaimin juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin masuk ke berbagai bidang kehidupan.

Ia mengatakan perkembangan teknologi telah melahirkan kecerdasan buatan yang bahkan mulai mengambil sebagian peran yang sebelumnya dikerjakan manusia.

“Teknologi telah melahirkan kecerdasan buatan (AI), yang telah juga mengambil sebagian besar dari peran-peran utama kemanusiaan kita,” ujarnya.

Menurut Muhaimin, kondisi tersebut menuntut masyarakat, khususnya generasi muda dan lulusan perguruan tinggi, untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi.

Kemampuan beradaptasi menjadi penting agar manusia tetap mampu menempatkan dirinya secara tepat di tengah perkembangan berbagai bentuk kecerdasan buatan.

“Apa yang terjadi adalah keadaan di mana kita harus betul-betul mampu mengadaptasikan diri dan memposisikan diri di tengah berbagai kecerdasan buatan,” kata Muhaimin.

NILAI KEMANUSIAAN TETAP MENJADI PEGANGAN

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Muhaimin mengingatkan agar kemajuan tersebut tidak membuat manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Menurutnya, penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan manusia menjaga nilai, karakter, dan tanggung jawab sosial.

Pesan tersebut menjadi penting bagi para lulusan perguruan tinggi yang akan memasuki kehidupan profesional dan masyarakat dengan tantangan yang semakin kompleks.

Muhaimin melihat perubahan teknologi bukan hanya menghadirkan peluang, tetapi juga menuntut kemampuan manusia untuk terus melakukan penyesuaian.

PERSAINGAN TAK LAGI SEKADAR ANTARPERGURUAN TINGGI

Dalam sambutannya, Muhaimin menggambarkan perubahan skala persaingan yang harus dihadapi generasi muda.

Persaingan tidak lagi hanya terjadi antarperguruan tinggi, tetapi berkembang menjadi persaingan antarwilayah, antarprovinsi, hingga antarbangsa.

“Tidak saja persaingan antarperguruan tinggi, antarwilayah, antarprovinsi, antarbangsa,” ujar Cak Imin.

Lebih jauh, ia menyebut persaingan tersebut berkembang pada tingkat yang lebih luas, yakni persaingan antarperadaban.

“Persaingan antarperadaban yang hendak menentukan siapa yang paling menentukan perbaikan dan perubahan di tengah gejolak ini,” katanya.

Pernyataan tersebut menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu ruang penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi perubahan global.

Lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kemampuan akademik sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

LULUSAN DIMINTA MENJADI BAGIAN DARI KEMAJUAN BANGSA

Dalam kesempatan yang sama, Muhaimin juga menyampaikan harapan agar para wisudawan mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa.

Muhaimin berharap para lulusan Universitas Ibrahimy dapat menjadi garda terdepan kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Ia menilai lulusan yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren memiliki bekal akademik sekaligus nilai-nilai yang dapat menjadi modal dalam menghadapi berbagai perubahan.

Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy tersebut menjadi momentum bagi para lulusan untuk memasuki fase baru setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Dengan perubahan teknologi yang berlangsung cepat, tantangan bagi lulusan bukan hanya bagaimana memperoleh pekerjaan, tetapi juga bagaimana terus mengembangkan kemampuan, beradaptasi dengan teknologi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Muhaimin menekankan bahwa kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi perlu tetap berjalan bersama dengan penjagaan nilai-nilai kemanusiaan.

Di tengah munculnya berbagai bentuk kecerdasan buatan dan perubahan pola kehidupan akibat digitalisasi, manusia tetap dituntut mampu menentukan arah perubahan dan memastikan teknologi digunakan untuk mendukung kemajuan kehidupan.

✓ Anda sedang membaca versi lengkap (4 halaman digabung). Kembali ke tampilan per halaman