Iklan
Iklan
Dunia

IMF Minta Pemerintah Untuk Segera Bertindak, Utang Global yang Terus Meningkat

Utang publik global diproyeksi menembus 100 persen PDB pada 2029. IMF meminta pemerintah memperkuat konsolidasi fiskal dan menekan defisit.

IMF Minta Pemerintah Untuk Segera Bertindak, Utang Global yang Terus Meningkat
Foto: Dana Moneter Internasional (IMF) Minta Pemerintah Untuk Segera Bertindak, Utang Global Yang Terus Meningkat (Ilustrasi. AFP/STEFANI REYNOLDS)

Semualini.com, Jakarta - Utang publik global diproyeksikan menembus 100 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2029. Dana Moneter Internasional (IMF) meminta pemerintah di berbagai negara segera memperkuat konsolidasi fiskal untuk menekan defisit dan menjaga keberlanjutan keuangan negara.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan banyak pemerintah telah memahami perlunya memperbaiki kondisi fiskal, tetapi langkah konkret yang dilakukan dinilai masih belum memadai. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum ekonomi di New York pada Minggu (20/9/2026).

“Kami telah memperingatkan bahwa konsolidasi fiskal harus dilakukan, dan kami melihat banyak pemahaman, tetapi belum cukup banyak tindakan,” kata Georgieva.

Utang Global Terus Meningkat

Proyeksi IMF menunjukkan utang publik global yang berada di sekitar 94 persen dari PDB pada 2025 akan meningkat hingga mencapai atau melampaui 100 persen pada 2029.

Dalam laporan Fiscal Monitor April 2026, IMF menyebut rasio utang publik global mencapai sekitar 93,9 persen PDB pada 2025. Angka tersebut meningkat hampir 2 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.

IMF memperkirakan kenaikan utang terutama dipengaruhi oleh perekonomian besar, termasuk Amerika Serikat dan China. Tekanan tersebut berlangsung ketika pemerintah menghadapi kebutuhan belanja yang meningkat serta biaya pembayaran bunga yang lebih tinggi.

IMF Soroti Kondisi Fiskal Amerika Serikat

Georgieva secara khusus menyoroti kondisi fiskal Amerika Serikat. Ia mengatakan IMF telah mendorong Washington untuk memperhatikan posisi keuangannya dan secara bertahap menurunkan defisit serta utang pemerintah.

Menurut Georgieva, terdapat pemahaman mengenai perlunya memperbaiki kondisi tersebut setelah pembicaraan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Ia menyebut posisi fiskal Amerika Serikat saat ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kondisi fiskal Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan utang global karena besarnya perekonomian dan pasar keuangan negara tersebut.

Biaya Bunga Menjadi Tekanan

Kenaikan utang terjadi bersamaan dengan tingginya biaya pembiayaan. IMF mencatat beban pembayaran bunga pemerintah secara global meningkat, sementara imbal hasil obligasi jangka panjang di sejumlah negara maju tetap berada pada tingkat tinggi.

Situasi tersebut dapat membuat pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk membayar bunga utang. Akibatnya, ruang fiskal untuk membiayai program lain dapat menjadi lebih terbatas.

Tekanan juga dapat meningkat apabila inflasi bertahan tinggi dan bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya penerbitan maupun pembiayaan kembali utang.

IMF Dorong Konsolidasi Fiskal

IMF menilai pemerintah perlu melakukan konsolidasi fiskal secara kredibel dan bertahap. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keberlanjutan utang sekaligus mempertahankan ruang kebijakan apabila perekonomian kembali menghadapi guncangan.

Dalam Fiscal Monitor April 2026, IMF menyebut tekanan terhadap keuangan publik berasal dari berbagai kebutuhan belanja, termasuk kebutuhan sosial, pertahanan, serta meningkatnya beban bunga.

IMF juga menekankan bahwa kebijakan penyesuaian fiskal perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat yang paling terdampak. Dengan demikian, pengurangan defisit tidak hanya berfokus pada penurunan belanja, tetapi juga pada kualitas dan efektivitas kebijakan fiskal.

Posisi Utang Qatar

Di tengah tekanan fiskal global, Qatar disebut memiliki bantalan fiskal yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir.

Gubernur Bank Sentral Qatar Sheikh Bandar bin Mohammed bin Saoud Al-Thani mengatakan rasio utang terhadap PDB Qatar telah turun dari sekitar 60 persen menjadi 40 persen. Ia juga menyebut sektor nonhidrokarbon terus berkembang.

Perkembangan tersebut menunjukkan kondisi fiskal setiap negara tidak seragam. Tingkat utang, kemampuan membiayai kewajiban, struktur ekonomi, serta ruang kebijakan berbeda antara satu negara dan negara lainnya.

Pemerintah Diminta Tidak Menunda

Dengan proyeksi utang publik global mencapai lebih dari 100 persen PDB pada 2029, IMF menilai penyesuaian fiskal tidak dapat terus ditunda.

Georgieva mengatakan pemahaman mengenai risiko utang sudah semakin luas, tetapi pemerintah masih perlu menerjemahkannya menjadi kebijakan nyata.

Langkah pengendalian defisit dan utang akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ruang fiskal pemerintah ketika menghadapi perubahan kondisi ekonomi global.

✓ Anda sedang membaca versi lengkap (3 halaman digabung). Kembali ke tampilan per halaman