Prabowo Sebut Gontor Harus Di Atas Semua Golongan Politik
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya menjaga independensi pesantren dari politik praktis saat menghadiri acara di Pondok Modern Darussalam Gontor. Namun, ia menilai lembaga pendidikan tetap harus memahami politik sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

PONOROGO – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya menjaga posisi lembaga pendidikan Islam tetap berada di atas berbagai kepentingan politik praktis saat memberikan sambutan di hadapan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan apresiasi terhadap peran Gontor yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia dan berhasil melahirkan tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang profesi, organisasi, maupun pandangan politik.
Menurutnya, salah satu kekuatan utama Gontor terletak pada kemampuannya menjaga independensi institusi sambil tetap memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan bangsa.
Prabowo mengaku mengetahui banyak alumni Gontor yang saat ini berkiprah di berbagai sektor strategis, mulai dari pemerintahan, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, hingga berbagai profesi lainnya.
"Saya tahu banyak alumni Gontor ada di situ," ujarnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan para alumni tidak berarti lembaga pendidikan harus terlibat langsung dalam politik praktis.
Ia justru memuji prinsip yang selama ini dijaga Gontor untuk tidak menjadi bagian dari kepentingan politik jangka pendek.
"Saya tahu Gontor tidak boleh berpolitik. Itu benar," katanya.
Prabowo kemudian menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara politik praktis dengan pemahaman politik sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, lembaga pendidikan tidak perlu menjadi alat politik atau terafiliasi dengan kelompok tertentu. Namun para peserta didik tetap harus memahami bagaimana sistem politik bekerja karena kebijakan publik yang lahir dari proses politik akan memengaruhi kehidupan masyarakat.
"Gontor jangan ikut politik praktis, tapi harus paham politik," tegasnya.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian peserta yang hadir karena mencerminkan pandangan bahwa pendidikan politik tidak selalu identik dengan keterlibatan dalam perebutan kekuasaan.
Prabowo menilai pemahaman politik penting agar generasi muda mampu memahami berbagai persoalan kebangsaan secara lebih utuh, termasuk bagaimana kebijakan negara disusun dan bagaimana kepentingan rakyat diperjuangkan melalui mekanisme demokrasi.
Dalam pandangannya, santri dan generasi muda perlu memahami realitas politik agar tidak mudah dipengaruhi oleh berbagai kepentingan yang dapat merugikan bangsa.
Namun, pengetahuan tersebut menurutnya harus digunakan untuk memperkuat persatuan dan pembangunan nasional, bukan untuk memperdalam polarisasi politik di masyarakat.
Prabowo juga menegaskan bahwa Gontor memiliki posisi yang unik dalam kehidupan nasional karena mampu diterima oleh berbagai kalangan.
Ia menyebut pesantren tersebut telah lama dikenal sebagai lembaga yang berada di atas kepentingan golongan.
"Gontor harus di atas segala golongan politik," ujarnya.
Menurut Prabowo, posisi tersebut merupakan aset penting yang perlu dijaga di tengah dinamika politik yang sering kali memunculkan perbedaan pandangan.
Karena itu, ia menilai independensi Gontor menjadi salah satu faktor yang membuat pesantren tersebut tetap dihormati oleh berbagai kelompok masyarakat.
Salah satu bagian yang paling mendapat perhatian peserta adalah ketika Prabowo mengutip filosofi yang menurutnya menggambarkan peran Gontor dalam kehidupan bangsa.
"Gontor tidak boleh ke mana-mana, tapi harus ada di mana-mana," katanya.
Ungkapan tersebut disambut antusias oleh para peserta yang hadir.
Menurut Prabowo, filosofi tersebut menggambarkan bahwa institusi Gontor tidak perlu terlibat langsung dalam arena politik praktis. Namun nilai-nilai yang diajarkan dan para alumninya dapat hadir serta memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan nasional.
Ia menilai kontribusi terbesar lembaga pendidikan bukan terletak pada keterlibatan dalam perebutan kekuasaan, melainkan pada kemampuannya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.
Melalui para alumninya, nilai-nilai pendidikan pesantren dapat hadir dalam pemerintahan, pendidikan, dunia usaha, organisasi sosial, maupun berbagai bidang lainnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung tokoh nasional Din Syamsuddin yang baru diketahuinya merupakan alumni Gontor.
"Sekian belas tahun saya baru tahu Din Syamsuddin itu lulusan Gontor," ujarnya.
Ia kemudian menggambarkan mantan Ketua Umum Muhammadiyah tersebut sebagai sosok yang rendah hati, meskipun memiliki ketegasan dalam menyampaikan pandangan.
"Beliau memang selalu rendah hati. Bukan rendah diri, rendah hati," kata Prabowo.
Menurutnya, karakter seperti itu menunjukkan bagaimana pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga membangun kepribadian dan etika kepemimpinan.
Di sisi lain, hubungan antara pesantren dan politik di Indonesia memiliki dinamika yang beragam. Sejumlah lembaga pendidikan Islam memilih menjaga jarak dari politik praktis, sementara sebagian lainnya memiliki sejarah kedekatan dengan organisasi kemasyarakatan maupun partai politik tertentu.
Para pengamat pendidikan Islam umumnya melihat bahwa yang terpenting bukanlah apakah alumni pesantren terlibat dalam politik atau tidak, melainkan bagaimana nilai-nilai yang diperoleh selama pendidikan diterapkan ketika mereka memasuki ruang publik.
Dalam sistem demokrasi, keterlibatan warga negara dalam politik merupakan hak yang dijamin konstitusi. Karena itu, banyak alumni pesantren yang kemudian memilih berkiprah sebagai politisi, anggota legislatif, kepala daerah, menteri, akademisi, maupun aktivis masyarakat sipil.
Keberagaman jalur pengabdian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya menghasilkan tokoh agama, tetapi juga melahirkan figur yang berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan nasional.
Dalam konteks itu, pernyataan Prabowo dapat dipahami sebagai penegasan mengenai pentingnya menjaga independensi institusi pendidikan, sementara para alumninya tetap memiliki kebebasan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik dan pemerintahan sesuai pilihan masing-masing.
Bagi banyak kalangan, posisi independen lembaga pendidikan justru memungkinkan pesantren menjadi ruang dialog yang lebih inklusif karena dapat diterima oleh berbagai kelompok masyarakat dan menjadi jembatan di tengah perbedaan pandangan politik yang ada.
Pidato tersebut sekaligus menegaskan pandangan Prabowo bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai lembaga yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan generasi muda Indonesia.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.




