Kelangkaan Pertalite Makin Parah, Pengecer NTT Ambil Kesempatan
Kelangkaan Pertalite memicu kericuhan warga di Kapuas Hulu, Kalbar, serta maraknya spekulasi harga BBM oleh pengecer di Belu, NTT.

Jakarta, Semualini.com - Distribusi bahan bakar minyak jenis Pertalite seringkali menyebabkan ketegangan sosial di sejumlah wilayah. Kondisi tekanan terhadap pasokan BBM bersubsidi ini menciptakan ketegangan di antara para pembeli di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dan juga meningkatkan praktik spekulasi harga oleh pedagang eceran di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Pada hari Kamis, warga di Agen Penyalur Minyak dan Solar Semitau di Kabupaten Kapuas Hulu mengalami ketegangan. Terjadi insiden dorong-mendorong di antrean kendaraan akibat dugaan tindakan saling menyerobot layanan saat masyarakat menunggu pasokan bahan bakar.
Meskipun situasi sempat tegang, pihak kepolisian memastikan bahwa kesalahpahaman tersebut dapat diselesaikan pada hari yang sama secara damai tanpa terjadinya kekerasan fisik.
Sebagai langkah lanjutan dalam penanganan masalah, Muspika Semitau, Sejiram, dan Suhaid menyusun agenda koordinasi bersama pada hari Senin.
Pertemuan ini menghadirkan para pemilik kios serta pengelola APMS untuk mencapai kesepakatan mengenai tata kelola dan pola antrean yang lebih teratur guna mencegah terjadinya gesekan yang berulang.
Harga Eceran Tembus Rp25.000 per Liter
Gangguan pasokan turut mempengaruhi SPBU Putussibau di Kapuas Hulu. Selama hampir sebulan, antrean panjang kendaraan terlihat, sementara persediaan BBM bersubsidi sering kali kehabisan pada siang hari. Keadaan ini memaksa beberapa pengendara untuk mencari alternatif di pasar tidak resmi.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu telah menetapkan harga eceran tertinggi untuk Pertalite sebesar Rp15.000 per liter, namun di lapangan harga tersebut melonjak hingga Rp25.000 per liter akibat lemahnya penegakan sanksi.
"Sudah hampir sebulan seperti ini, kami harus mengantre lama untuk beli Pertalite. Siang SPBU sudah tutup karena persediaannya sudah habis. Kami terpaksa beli di pengecer yang harganya sampai Rp25.000 per liter," ujar salah seorang warga yang ditemui di lokasi antrean.
Warga tersebut menambahkan bahwa instruksi batas harga belum berdampak signifikan. "Tak ada solusi konkret di lapangan, padahal bupati sudah mengeluarkan himbauan untuk menjual di harga Rp15.000 paling tinggi," tuturnya.
Penyimpangan Distribusi di Belu
Di SPBU Kota Atambua, Kabupaten Belu, NTT, antrean kendaraan terjadi karena adanya pengisian ulang yang dilakukan oleh oknum pengecer.
Implementasi praktik penyedotan kuota yang berkelanjutan ini mengakibatkan alokasi BBM bersubsidi untuk konsumen umum segera habis. Pemerintah Kabupaten Belu telah mengonfirmasi kesiapan mereka dalam menertibkan penyaluran BBM bersubsidi bagi masyarakat yang berhak.
“Kita akan berupaya melakukan penertiban sehingga para pengecer tidak terus mengambil BBM di SPBU untuk kemudian dijual kembali. Ini penting agar masyarakat yang memang membutuhkan BBM bisa mendapatkan pelayanan dengan baik,” kata Kepala Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Belu, Mickael Bria.
© 2026 Semualini.com. Isi artikel ini dilindungi hak cipta. Menyalin atau mengutip wajib mencantumkan sumber dan tautan ke artikel ini.



