Iklan
Nasional

Bahlil: Harga Minyak Meroket, Subsidi LPG 3 Kg Bengkak Rp100 T

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ungkap beban subsidi LPG 3 kg berpotensi membengkak hingga Rp100 triliun imbas tingginya harga minyak dunia dan ketergantungan impor.

Bahlil: Harga Minyak Meroket, Subsidi LPG 3 Kg Bengkak Rp100 T
Foto: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Sumber : Dok Pertamina).

Ringkasan Berita:

  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut beban subsidi LPG 3 kg (gas melon) diproyeksikan membengkak hingga mencapai Rp100 triliun.
  • Tingginya beban tersebut dipicu oleh melambungnya harga minyak dunia dan fakta bahwa 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi dari impor.
  • Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah akan mengebut program perluasan Jaringan Gas (Jargas) kota dan pemanfaatan CNG agar devisa negara tidak terkuras.

JAKARTA, semualini.com – Pemerintah kini tengah dihadapkan pada tantangan ruang fiskal yang kian berat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memproyeksikan alokasi subsidi untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kilogram atau yang akrab disapa "gas melon" bakal membengkak drastis.

Pembengkakan anggaran negara tersebut tidak lepas dari dinamika ekonomi dan politik global. 

Pemicu utamanya adalah tren kenaikan harga minyak mentah dunia yang belakangan ini terjadi, sehingga otomatis mengerek harga patokan Contract Price (CP) Aramco yang selama ini menjadi acuan harga LPG di pasar internasional.

"Subsidi LPG 3 kg kita ini membengkak luar biasa. Dengan kondisi harga minyak dunia yang sekarang meroket, angka beban subsidi tersebut kami proyeksikan bisa menembus hingga sekitar Rp100 triliun," ungkap Bahlil Lahadalia dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini muncul lantaran struktur pemenuhan kebutuhan LPG nasional yang masih sangat timpang. 

Hingga saat ini, pasokan gas domestik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin dan pelaku UMKM belum mencukupi, sehingga pemerintah harus bergantung pada keran impor dari negara lain.

"Kenapa bebannya bisa sebesar itu? Karena tingkat konsumsi kita di dalam negeri sangat tinggi, sementara lebih dari 75 hingga 80 persen kebutuhan LPG nasional itu harus kita penuhi lewat impor dari luar," jelas Bahlil menyoroti tingginya ketergantungan energi tersebut.

Iklan

Kondisi defisit pasokan gas domestik ini membuat postur keuangan negara menjadi sangat rentan. 

Terlebih lagi, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga memicu ketidakpastian pasokan global. 

Selain harga dasar yang naik, kondisi ini kian diperparah oleh nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Setiap ada gejolak geopolitik yang mengerek harga patokan global dan diiringi pelemahan kurs rupiah, beban APBN kita otomatis langsung tertekan hebat karena biaya untuk impor ikut membengkak secara eksponensial," tegas mantan Menteri Investasi tersebut.

Menghadapi situasi yang terus mengimpit ruang fiskal, pemerintah menegaskan tidak akan tinggal diam. 

Kementerian ESDM kini tengah mematangkan sejumlah strategi guna menekan ketergantungan impor dan menyelamatkan keuangan negara dalam jangka menengah dan panjang. 

Salah satu opsi utamanya adalah memaksimalkan potensi gas alam di dalam negeri yang masih sangat melimpah.

"Ke depan, ketergantungan impor LPG ini harus segera kita pangkas secara bertahap. Solusi utamanya, kita akan mendorong percepatan pembangunan Jaringan Gas (Jargas) kota dan optimalisasi pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) agar devisa negara tidak terus terkuras untuk subsidi," pungkas Bahlil.

Iklan

Komentar

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Mohon gunakan bahasa yang sopan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.